Usaha Kecil Perlu Pengorganisasian dan Manejemen

Usaha Kecil Perlu Pengorganisasian dan Manejemen

Berita

 

Sarasehan "Kebangkitan Ekonomi Mikro dan Pertanian"

Pengorganisasian untuk usaha kecil diperlukan agar mereka bisa mencapai skala ekonomi, dan menembus pasar yang diinginkan. Selain itu juga harus diperhatikan aspek manajemennya. Begitu dipaparkan oleh Komisaris Utama PT Telkom Tanri Abeng, dalam kegiatan bertema "Penyaluran KUR Mikro Melalui LKM di Kabupaten Bogor dan Sarasehan ‘ Kebangkitan Ekonomi Mikro dan Pertanian', IPB International Convention Center, (27/6).

"Menurut pengamatan saya, usaha-uhasa kecil di Indonesia memiliki masalah dalam menembus pasar, hal tersebut disebabkan antara lain karena skalanya yang terlalu kecil, serta lemahnya manajemen. Kita perlu pengorganisasian dalam bentuk korporasi sehingga dia bisa membentuk suatu skala yang cukup besar untuk bisa menembus pasar tertentu," kata Tanri Abeng.

Menurutnya, di Indonesia ada sekitar 47 juta pengusaha kecil dan itu adalah penyumbang 90% lapangan kerja. Hal ini pun terjadi di Negara Amerika Serikat dimana pengusaha kecil merupakan penyumbang lapangan kerja terbesar.

"Pemerintah harus memfasilitasi para pelaku ekonomi yaitu Badan Usaha Milik Asing, Badan Usaha Milik Swasta, Badan usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, dan Badan Usaha Milik Rakyat dalam meningkatkan nilai tambah," katanya.

Sementara itu, Komisaris Independen BRI Aviliani menyoroti soal permodalan. Permodalan bisa didapatkan salah satunya dengan program pemerintah yang dinamakan Kredit Usaha Rakyat (KUR)

"KUR adalah program pemerintah yang disalurkan melalui tujuh bank yang ada di Indonesia. Tahun ini dana KUR memang diprioritaskan untuk pertanian. Cara mendapatkan dana ini ada yang langsung dan ada juga yang melalui Lembaga Keuangan Mikro (LKM)," ujarnya.

Menurutnya, dana KUR ini sudah terkucur sekitar empat triliun, sisanya  enam triliun siap menunggu untuk dikucurkan lagi.

Di sisi lain, Direktur Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis (MB) IPB, Dr Ir Arief Daryanto M.Ec, dalam menanggapi lemahnya daya saing produk pertanian Indonesia menurutnya, jangan malu untuk belajar pertanian dari kesuksesan masa lalu.

"Agar produk kita bisa berdaya saing tinggi dan memiliki nilai tambah yang besar jangan malu-malu untuk belajar kesuksesan dari pengalaman masa lalu serta harus berani melakukan inovasi-inovasi di berbagai sektor.

Acara ini juga menghadirkan Asisten Direktur Produksi Perhutani, Edi Janat, dan mendaulat Ir. Lusi Fauziah, M.Ec. sebagai moderator. (man)