LRB IPB Kamir R Brata Kurangi Banjir Jakarta
Lubang Resapan Biopori (LRB) yang ditemukan oleh Kamir R Brata, Pengajar Konservasi Tanah dan Air pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan Institut Pertanian Bogor (IPB), diharapkan dapat mengurangi banjir di Kota Jakarta.
Pemda DKI Jakarta sengaja membuat LRB ini di beberapa tempat di Jakarta dengan kegiatan yang dinamakan "Apel Siaga Gerakan Massa pencanangan Pembangunan Kolam Resapan dan Lubang Resapan Biopori (LRB) Dalam Rangka Mitigasi banjir," Sabtu (8/12) di Gelanggang Olah Raga Soemantrie Brojonegoro, Jakarta.
Hal ini dilakukan dalam rangka mengatasi datangnya banjir pada musim penghujan tahun 2007, dan mengurangi tingkat bahaya kekeringan di musim kemarau. Gerakan massa ini dicanangkan oleh Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Fauzi Bowo dalam rangka program 100 hari jabatan Gubernur Provinsi DKI Jakarta, dan merupakan bagian dari strategi mitigasi bencana.
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang akrab disapa Foke menegaskan hal itu pada saat apel tersebut.
Apel siaga diikuti sekitar 4.000 orang dari berbagai unsur masyarakat, antara lain utusan mahasiswa dari IPB dan utusan 25 perguruan tinggi lainnya, pelajar sekolah menengah dan taman kanak-kanak, utusan pegawai Pemprov DKI Jakarta, tentara, polisi, dan aktivis lingkungan. Hadir juga penemu teknologi LRB dari Institut Pertanian Bogor, Kamir R Brata, dan Rektor IPB, Prof.Dr.Ir.A.A.Mattjik, M.Sc.
Menurut Foke, semakin banyaknya tanah yang tertutup bangunan menjadi salah satu penyebab meluasnya genangan air. Sementara pada musim hujan kelimpahan air, pada musim kemarau malah sebagian Jakarta mengalami krisis air.
Faktor yang memengaruhi banjir ialah karena kondisi geologi kota . Daerah cekungan yang permukaannya tidak mampu meresap air hujan akan menimbulkan genangan. Meluasnya daerah cekungan juga diakibatkan oleh penurunan air tanah akibat pemanfaatan berlebihan dan tertutupnya daerah resapan oleh bangunan.
Gubernur menjelaskan, sumur resapan merupakan salah satu solusi penting untuk menampung, menyimpan, dan menambah cadangan air tanah. Juga untuk mengurangi limpasan air hujan ke saluran pembuangan dan badan air lainnya agar dapat digunakan lagi pada musim kemarau. "Salah satu teknologi sumur resapan ialah LRB," katanya.
Oleh karena itu, kata Foke, setiap pemohon surat IMB baru di Pemprov DKI Jakarta diwajibkan membuat sumur resapan terlebih dahulu. Hingga saat ini, DKI Jakarta sudah membangun sumur resapan di 39.511 titik. Dalam gerakan kali ini, akan dibangun lagi sejuta LRB karena teknologinya murah, mudah, dan gampang dilakukan.
Sementara itu, Kamir R Brata penemu LRB mengatakan, membangun LRB dapat dilakukan oleh siapa saja, tidak memerlukan lahan yang luas. Sebab, diameternya 10 sentimeter dengan kedalaman 80-100 sentimeter. LRB tidak saja berfungsi menanggulangi genangan atau membentuk cadangan air, tetapi juga mengurangi sampah organik.
Di LRB dimasukkan sampah organik yang diharapkan akan dimakan oleh organisme yang ada di dalam tanah. Dengan demikian, akan tercipta lubang-lubang kapiler kecil di dalam tanah. Dengan adanya lubang kapiler di dalam tanah, penyerapan air ke dalam tanah juga semakin banyak.
Apalagi, katanya, dalam lubang resapan biopori yang diberi sampah organik akan menjadi habitat cacing yang membuat lubang kapiler. "Pada saat tertentu, sampah itu berubah menjadi pupuk kompos," ujarnya.
Sampah organik perlu ditambahkan ke dalam lubang yang isinya sudah berkurang karena proses pelapukan. "Di halaman seluas 50 meter persegi, misalnya, bisa dibuatkan 20-30 LRB. Jaraknya tidak perlu beraturan dan dapat dilakukan oleh siapa saja," kata Kamir (man)
