IPB University-Jepang Dorong Pemanfaatan Model AIM dalam Kebijakan Iklim Indonesia
IPB University melalui of Lembaga Riset Internasional Lingkungan dan Perubahan Iklim (LRI-LPI) bekerja sama dengan pemerintah Jepang dan National Institute for Environment Studies (NIES) beserta mitra lainnya menggelar webinar pemanfaatan Asia-Pacific Integrated Model (AIM), (14/2).
Kepala LRI-LPI IPB University, Prof Rizaldi Boer mengatakan, webinar tersebut bertujuan untuk berbagi pengalaman Jepang dan Indonesia dalam mengembangkan serta menerapkan AIM pada skala lokal, sekaligus mendorong dialog antara pembuat kebijakan, peneliti, dan akademisi terkait jalur menuju pembangunan rendah karbon.
Prof Rizaldi menuturkan, AIM yang dikembangkan oleh NIES Jepang dinilai semakin krusial dalam mendukung perumusan kebijakan dekarbonisasi Indonesia menuju target net zero emission atau emisi nol bersih. Ia menegaskan bahwa Indonesia saat ini berkomitmen mencapai emisi nol bersih maksimal pada 2060 dengan puncak emisi diperkirakan terjadi pada periode 2030–2035.
Dalam konteks tersebut, lanjutnya, model AIM menjadi alat yang strategis mencapai cita-cita emisi nol bersih karena mampu memberikan penilaian yang transparan dan komprehensif terhadap dampak kebijakan emisi, kinerja ekonomi, serta sektor-sektor kunci seperti energi, kehutanan, dan penggunaan lahan. Model ini juga telah digunakan di berbagai negara Asia seperti Tiongkok, India, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, Malaysia.
“Model seperti AIM menawarkan evaluasi yang menyeluruh mengenai bagaimana kebijakan memengaruhi emisi dan pembangunan ekonomi. Ini sangat penting sebagai dasar perumusan kebijakan yang berbasis sains,” jelas Prof Rizaldi.
Prof Rizaldi menerangkan, kekuatan utama AIM terletak pada kemampuannya mengintegrasikan model nasional bottom-up dengan model global top-down, mengevaluasi ratusan pilihan teknologi, serta menyimulasikan berbagai skenario kebijakan termasuk penetapan harga karbon.
“Model ini menjembatani sains dan kebijakan serta mendukung dokumen perencanaan strategis seperti strategi pembangunan rendah karbon jangka panjang dan ketahanan iklim Indonesia,” tambahnya.
Prof Rizaldi menekankan pentingnya kolaborasi internasional dan peningkatan kapasitas dalam pengembangan model iklim. Tanpa pendekatan pemodelan yang kuat, strategi iklim berisiko menjadi terfragmentasi dan tidak selaras dengan tujuan pembangunan nasional.
Ia berharap webinar tersebut dapat menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam serta memperkuat kerja sama lintas negara dalam memajukan pembangunan rendah karbon di kawasan Asia-Pasifik.
“Dengan dukungan model seperti AIM, kita dapat merancang strategi iklim yang lebih terintegrasi, ilmiah, dan relevan dengan konteks nasional,” pungkasnya. (MHT)
