IPB University dan NCMS Gelar Kajian Titik Temu, Bangun Dialog Inklusif Lintas Ilmu dan Agama

IPB University dan NCMS Gelar Kajian Titik Temu, Bangun Dialog Inklusif Lintas Ilmu dan Agama

IPB University dan NCMS Gelar Kajian Titik Temu, Bangun Dialog Inklusif Lintas Ilmu dan Agama
Berita

Dalam upaya memperkuat budaya dialog lintas disiplin, IPB University bekerja sama dengan Nurcholish Madjid Society (NCMS) menyelenggarakan Kajian Titik Temu di Kampus IPB Dramaga, Bogor. 

Kegiatan ini menjadi wadah reflektif bagi sivitas akademika dan publik untuk menjawab tantangan zaman melalui pendekatan yang toleran dan berkeadaban.

Dalam sambutannya, Direktur Kerjasama, Komunikasi, dan Pemasaran IPB University, Dr Alfian Helmi, menyampaikan ajakan kolaborasi dalam kajian titik temu di lingkungan kampus. 

“Forum ini menjadi sebagai ruang dialog antar mahasiswa dan civitas akademika untuk mempertemukan gagasan dari berbagai perspektif keilmuan,” ujarnya.

Dr Alfian mengatakan bahwa IPB University menolak segregasi politik berbasis perbedaan. Sebaliknya, titik temu menjadi wadah untuk menjalin pemahaman antarparadigma.

IPB University, lanjut Dr Alfian, berkomitmen menjadi kampus inklusif melalui berbagai jalur penerimaan. Salah satunya adalah seleksi undangan tanpa tes yang diinisiasi Prof Andi Hakim Nasution, yang kini dikenal sebagai Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Program ini membuka kesempatan bagi siswa terbaik dari seluruh Indonesia.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Nurcholish Madjid Society, Omi Komaria Madjid, menyatakan bahwa kajian titik temu ini merupakan salah satu program untuk menyosialisasikan nilai rahmatan lil alamin.

“Melalui kajian ini, kami ingin menanamkan wawasan inklusif, toleran, dan plural kepada masyarakat, khususnya generasi muda,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa nilai-nilai tersebut penting sebagai bagian dari komitmen bersama untuk mewujudkan mimpi besar bangsa, yaitu Indonesia yang setara. Menurutnya, cita-cita tersebut adalah warisan dari para pendiri Republik.

“Kesetaraan adalah prinsip utama yang harus kita junjung bersama, baik dalam kehidupan beragama, politik, maupun ekonomi,” katanya.

Rektor IPB University, Prof Arif Satria, menyampaikan bahwa pemikiran Nurcholish Madjid atau Cak Nur masih sangat relevan dengan tantangan zaman saat ini. 

“Gagasan beliau tentang agama yang terbuka dan berdampak nyata dalam kehidupan sosial harus terus kita hidupkan,” ujarnya.

Prof Arif menjelaskan bahwa peran agama perlu dikaji lebih dalam, terutama dalam dua aspek penting, yaitu perubahan perilaku dan perubahan ekonomi. Menurutnya, agama tidak hanya membentuk keyakinan, tetapi juga mendorong etos kerja dan tanggung jawab sosial.

Kajian-kajian tersebut, menurutnya perlu dihidupkan kembali karena tantangan yang dihadapi saat ini sangat berbeda dibanding masa lalu. Salah satunya adalah kemajuan teknologi yang sangat cepat.

“Kehadiran kecerdasan buatan (AI) perlu direspons oleh semua agama. Ada dimensi etik, hukum, dan kemanusiaan yang harus dieksplorasi,” katanya.

Dalam kajian ini, turut hadir Cendekiawan Muslim, Dr Yudi Latif, yang menyampaikan pandangannya tentang pentingnya membangun masyarakat yang inklusif. Ia mengatakan bahwa cita-cita kesetaraan tidak hanya bersifat legal, tetapi juga harus menjadi kesadaran sosial yang tumbuh dalam setiap individu.

“Kesetaraan harus dipahami sebagai hubungan antarsubjek budaya yang saling menghargai dan setara dalam ruang sosial,” ujarnya. (dr)