Produk Perikanan Indonesia Bisa Lampaui Cina

Produk Perikanan Indonesia Bisa Lampaui Cina

Berita

Potensi perikanan budidaya yang begitu besar di Indonesia, baik budidaya laut, budidaya payau, maupun budidaya tawar, sebagian besar masih belum termanfaatkan secara optimal. Berdasarkan data potensi yang ada dan perhitungan kami, kami merasa yakin bahwa bila pemanfaatan sumberdaya perikanan budidaya dapat dikelola secara optimal, maka perikanan budidaya Indonesia akan mampu melampui produksi budidaya ikan negara Cina saat ini, yang merupakan negara pembudidaya ikan terbesar di dunia. Sikap optimis ini disampaikan oleh Rektor IPB Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc dalam sambutannya yang dibacakan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof. Dr. Ir. Yonny Koesmaryono, MS di IPB International Convention Center dalam Simposium Nasional Bioteknologi Akuakultur II.

"Bila kita sepakat dan bertekad untuk mewujudkan peluang di atas menjadi suatu kenyataan, maka dalam kesempatan ini saya menghimbau kepada seluruh peserta simposium untuk bersama-sama memikirkan langkah-langkah terobosan yangberbasis IPTEK dalam rangka melipatgandakan produksi dan produktivitas dengan tetap memperhatikan aspek kelestarian lingkungan," papar Prof. Yonny.

Simposium yang bertemakan Bioteknologi tersebut diharapkan sebagai upaya pendukung peningkatan produksi dan mutu produk akuakultur serta ketahanan pangan nasional ini mampu merefleksikan "present status" penerapan bioteknologi dalam akuakultur, mampu merefleksikan kemampuan SDM yang berkecimpung di bidang ini, dan mampu merefleksikan tingkat kemutakhiran bioteknologi yang diaplikasikan dalam akuakultur sehingga dapat dirumuskan langkah-langkah tepat yang perlu dilakukan untuk mendukung dan mengakselerasikan tercapainya tujuan revitalisasi perikanan negeri ini.

Sementara itu, simposium yang terselenggara berkat kerjasama Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB dan DKP ini mengundang salah satu peneliti muda berbakat dari Jepang yakni, Prof. Dr. Goro Yoshizaki dari Tokyo University of Marine Science and Technology untuk berbagi ilmu dan pengalamannya tentang bagaimana ikan salmon bisa melahirkan ikan rainbow trout melalui teknik transplantasi Primordial Germ Cell (PGC).

"Jepang sudah mampu merekayasa struktur, fungsi dan mekanisme reproduksi ikan salmon, mampu merekayasa mekanisme reproduksi beberapa spesies ikan sehingga dapat memijah setiap hari, dan adanya spesies ikan yang mampu tumbuh 30 kali lipat lebih cepat dari ikan normal melalui penerapan bioteknologi modern, sehingga diharapkan akan ada teknologi yang sama dapat diterapkan pada beberapa spesies ikan di Indonesia," tambah Prof. Yonny.

Selain itu, Ketua Panitia Dr. Sukenda dalam laporannya mengatakan bioteknologi merupakan bidang ilmu yang prospektif di abad millenium. Kemampuannya dalam merekayasa stuktur, fungsi, dan mekanisme biologis telah mengubah persepsi para ahli dalam memanfaatkan sumberdaya dan berbagai fenomena alam. Ia berharap forum simposium ini menjadi ajang yang sangat bermanfaat bagi masyarakat akuakultur dalam rangka menggapai dan mewujudkan cita-cita akuakultur dalam penyediaan pangan, ikan hias, bahan baku industri, pariwisata dan konservasi Indonesia.

Materi simposium yang dihadiri lebih dari 250 peserta yang berasal dari perguruan tinggi, lembaga/badan penelitian, mahasiswa dan peserta dari industri/swasta ini mencakup aspek-aspek repoduksi ikan, genetika ikan, nutrisi ikan, serta kesehatan ikan dan lingkungan akuakultur yang relevan dengan bioteknologi akuakultur. Sedangkan tujuan kegiatan ini sendiri diantaranya sosialisasi hasil-hasil penelitian dalam bidang bioteknologi akuakultur, dan menghimpun dan mendiskusikan konsep pemikiran dalam memanfaatkan dan mengembangkan bioteknologi akuakultur.

Dengan mengundang sejumlah pembicara antara lain, Dr. Gellwynn Jusuf sebagai Keynote Speaker dari Badan Riset Kelautan dan Perikanan, DKP-RI dengan tema Kebijakan Riset dalam Akuakultur", Prof. Dr. Patrick Sogeloos dari Ghent University Belgia dengan tema "Live Food Production and Nutritional Manipulation for Fish and Shellfish Larvae"' Prof. Dr. Shunsuke Koshio dari Kagoshima University, Jepang dengan tema " Fish Health and Nutrition."

Selain itu, Prof. Dr. Ikuo Hirono dan Prof. Dr. Goro Yoshizaki dari Tokyo University of Marine Science and Technology serta Dr. Munti Yuhana dari Departemen Budidaya Perairan, FPIK-IPB.(zul)