Cegah Resistensi Antimikroba, SKHB IPB University Edukasi Peternak tentang Penggunaan Antibiotik dan Biosekuriti
IPB University melalui Global Health Agromaritime-One Health Collaborating Center (GHA-OHCC) Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) mendorong peternak unggas memperkuat penggunaan antibiotik secara bijak dan penerapan biosekuriti sebagai langkah pencegahan resistensi antimikroba atau antimicroba resistance (AMR) serta penyakit pada peternakan.
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan penyuluhan bagi peternak dan pekerja fasilitas pengolahan unggas di Aula Transformasi SKHB, Kampus IPB Dramaga, Bogor (18/8).
Ketua penyelenggara, Dr Etih Sudarnika, mengatakan kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan pengalaman peternak di lapangan.
Menurutnya, pemahaman mengenai AMR dan biosekuriti penting karena dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kesehatan unggas, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap manusia dan lingkungan.
Ia menjelaskan, penggunaan antibiotik yang tidak tepat, termasuk pemberian obat ketika tidak diperlukan, dapat meningkatkan risiko resistensi.
“Resistensi antibiotik terjadi ketika kuman menjadi tidak bisa diobati lagi karena sudah kebal terhadap antibiotik. Kondisi ini tentu merugikan karena ketika penyakit muncul, obat yang digunakan bisa tidak lagi efektif,” ujar Dr Etih.
Karena itu, ia menyebutkan, pencegahan penyakit perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari pengelolaan peternakan, salah satunya melalui biosekuriti.
Selain penggunaan antibiotik secara bijak, kebiasaan sederhana sehari-hari juga dinilai berperan dalam mencegah masuknya agen penyakit ke peternakan. Dr Etih mencontohkan mencuci tangan dan menjaga kebersihan sebagai praktik dasar yang dapat diterapkan peternak.
Hadir sebagai narasumber dosen SKHB IPB University, Dr drh Hadri Latif. Ia membahas pentingnya kesadaran terhadap dampak resistensi antibiotik.
Ia menilai resistensi sering kali tidak segera terlihat sehingga masyarakat cenderung kurang memperhatikannya. Oleh karena itu, edukasi kepada peternak menjadi penting agar penggunaan antibiotik tidak hanya berorientasi pada penanganan penyakit, tetapi juga mempertimbangkan risiko jangka panjang.
Materi mengenai penyakit dan biosekuriti unggas disampaikan Guru Besar SKHB IPB University, Prof drh Agus Setiyono. Ia menjelaskan bahwa penyakit pada unggas dapat disebabkan berbagai agen, antara lain virus, bakteri, jamur, dan parasit. Dampaknya dapat terlihat melalui kematian hewan dan gangguan kesehatan, tetapi faktor pemicunya kerap tidak langsung terlihat.
“Penyakit yang selama ini kita lihat pada unggas itu seperti fenomena gunung es. Yang terlihat adalah kematian atau gangguan pernapasan, sedangkan faktor-faktor pendukungnya berada di bawah permukaan,” jelas Prof Agus.
Ia juga menekankan pada strategi pencegahan wabah melalui penerapan sistem biosekuriti yang sesuai kondisi peternakan. Menurutnya, kandang sistem closed house dapat membantu menekan sejumlah risiko dibandingkan open house, meskipun tidak berarti bebas dari masalah. (dr)
