Dokter Tanaman Series IPB University Dorong Pengelolaan OPT Secara Preemtif Hadapi Musim Kemarau

Dokter Tanaman Series IPB University Dorong Pengelolaan OPT Secara Preemtif Hadapi Musim Kemarau

dokter-tanaman-series-ipb-university-dorong-pengelolaan-opt-secara-preemtif-hadapi-musim-kemarau
Ilustrasi: magnific
Berita

Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman (Himasita) bekerja sama dengan Bidang Pengembangan Tani dan Nelayan, Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) IPB University, menyelenggarakan Webinar Dokter Tanaman Series #4.

Kali ini, webinar bertajuk “Pengelolaan Preemtif OPT Padi untuk Mempersiapkan Musim yang Akan Datang”, diikuti oleh dosen, peneliti, penyuluh pertanian, praktisi, petani, mahasiswa, dan berbagai pemangku kepentingan di sektor pertanian.

Kepala LPA2I IPB University, Dr Handian Purwawangsa dalam sambutan pembuka menyoroti tantangan sektor pertanian akibat perubahan iklim dan pola musim yang semakin sulit diprediksi. Menurutnya, kondisi tersebut menuntut perubahan pendekatan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dari yang selama ini bersifat reaktif menjadi lebih antisipatif dan berbasis data.

Sementara itu, Dr Giyanto, Ketua Departemen Proteksi Tanaman IPB University, menambahkan, konsep pengelolaan preemtif OPT perlu terus diperkenalkan agar petani mampu mengantisipasi risiko serangan hama dan penyakit sebelum terjadi di lapangan.

Narasumber pertama, Prof Hermanu Triwidodo, Guru Besar Departemen Proteksi Tanaman IPB University, menjelaskan bahwa musim kemarau yang lebih panjang, panas, dan kering berpotensi meningkatkan risiko ledakan berbagai hama penting, seperti penggerek batang padi, wereng batang cokelat, tikus, dan belalang kembara. Menurutnya, peningkatan suhu mempercepat perkembangan populasi hama, sementara keberadaan musuh alami justru cenderung menurun.

“Pengelolaan OPT yang efektif bukan dimulai ketika hama muncul, tetapi jauh sebelumnya melalui penangkalan, pengekangan, dan penekanan yang dirancang berdasarkan pengalaman, data, dan kondisi musim tanam sebelumnya,” ujarnya.

Prof Hermanu juga menekankan bahwa petani merupakan aktor utama dalam pengelolaan OPT. Oleh karena itu, pengelolaan persemaian sehat, pemanfaatan agen hayati, konservasi musuh alami, serta penerapan rekayasa ekologi menjadi langkah penting untuk mencegah ledakan hama pada musim tanam berikutnya.

Pada sesi berikutnya, Dr Hagia Sophia Khairani, dosen Departemen Proteksi Tanaman IPB University, memaparkan bahwa perubahan iklim tidak hanya memengaruhi tanaman, tetapi juga mempercepat proses adaptasi patogen penyebab penyakit. Kondisi ini menyebabkan penyakit tanaman, termasuk blas padi, memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan beberapa dekade lalu.

“Patogen memiliki kemampuan beradaptasi lebih cepat dibandingkan tanaman. Karena itu, strategi pengelolaan penyakit harus terus diperbarui dan tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan yang sama dari tahun ke tahun,” tegasnya. 

Ia menjelaskan bahwa penggunaan fungisida secara berulang dengan bahan aktif yang sama dapat mempercepat munculnya resistensi patogen. Selain itu, petani juga perlu mewaspadai munculnya penyakit baru, seperti bercak daun yang disebabkan oleh Nigrospora spp., yang gejalanya sering menyerupai penyakit blas namun memerlukan pendekatan pengendalian yang berbeda. 

Oleh karena itu, ia menegaskan, sanitasi lahan, pemilihan varietas yang sesuai, monitoring kondisi lingkungan, dan pemanfaatan teknologi modern menjadi bagian penting dalam strategi pengelolaan penyakit yang lebih efektif.

Melalui webinar ini, IPB University berharap semakin banyak petani, penyuluh, mahasiswa, dan praktisi pertanian yang memahami pentingnya pengelolaan preemtif OPT. Dengan demikian, sektor pertanian Indonesia dapat lebih siap menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus menjaga produktivitas dan keberlanjutan produksi pangan nasional. (*/Rz)