Akademisi IPB University Jelaskan Konjungsi Saturnus dan Bulan, Fenomena Langit yang Layak Diamati

Akademisi IPB University Jelaskan Konjungsi Saturnus dan Bulan, Fenomena Langit yang Layak Diamati

Akademisi IPB University Jelaskan Konjungsi Saturnus dan Bulan, Fenomena Langit yang Layak Diamati
Ilustrasi: magnific
Riset dan Kepakaran

Fenomena konjungsi Saturnus dan Bulan akan menghiasi langit pada 8 Juli 2026. Peristiwa astronomi ini dapat disaksikan dengan mata telanjang selama kondisi cuaca cerah dan langit bebas dari tutupan awan. 

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Izatul Hafizah, M.Si., menegaskan bahwa konjungsi merupakan fenomena alam yang dapat diprediksi secara ilmiah dan tidak berkaitan dengan perubahan cuaca, gempa bumi, maupun dampak langsung terhadap kehidupan manusia. 

Ia menjelaskan bahwa dalam astronomi, konjungsi adalah peristiwa ketika dua benda langit tampak berada sangat berdekatan jika diamati dari Bumi. Kedekatan tersebut hanyalah efek perspektif karena kedua benda memiliki bujur ekliptika yang hampir sama, bukan karena benar-benar saling mendekat di ruang angkasa.

“Walaupun terlihat berdekatan di langit, Bulan dan Saturnus sebenarnya dipisahkan oleh jarak yang sangat besar. Bulan berada sekitar 384 ribu kilometer dari Bumi, sedangkan Saturnus berjarak lebih dari satu miliar kilometer. Jadi, konjungsi hanya merupakan efek sudut pandang pengamat di Bumi,” jelasnya.

Ia menambahkan, masyarakat tidak memerlukan teleskop untuk menikmati fenomena tersebut. Bulan akan tampak sebagai objek yang sangat terang, sementara Saturnus terlihat seperti titik cahaya berwarna kekuningan. Namun, penggunaan binokular atau teleskop akan memberikan pengalaman observasi yang lebih baik karena cincin Saturnus dapat terlihat lebih jelas.

“Fenomena ini bisa diamati sejak sekitar pukul 23.40 WIB saat Bulan mulai terbit, kemudian Saturnus menyusul sekitar pukul 23.45 WIB. Keduanya akan terlihat berdekatan sepanjang dini hari hingga menjelang Matahari terbit sekitar pukul 05.52 WIB. Waktu terbaik untuk mengamatinya adalah setelah keduanya sudah cukup tinggi di langit, sekitar pukul 01.00–05.00 WIB,” kata dia.

Lebih lanjut, Izatul menerangkan bahwa konjungsi Saturnus dan Bulan terjadi sebagai konsekuensi alami dari gerak orbit benda-benda langit. Seluruh planet di Tata Surya mengelilingi Matahari pada bidang orbit yang hampir sama, yaitu bidang ekliptika. 

Di sisi lain, Bulan mengelilingi Bumi setiap sekitar 27,3 hari sehingga secara berkala melintasi posisi Saturnus di langit dari sudut pandang pengamat di Bumi.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengaitkan fenomena tersebut dengan berbagai isu yang tidak memiliki dasar ilmiah. Menurutnya, hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa konjungsi Saturnus dan Bulan dapat memengaruhi kondisi cuaca, memicu gempa bumi, maupun memberikan dampak langsung terhadap kehidupan manusia.

“Cuaca dipengaruhi oleh dinamika atmosfer seperti pemanasan Matahari, sirkulasi udara, kandungan uap air, serta fenomena iklim. Sementara itu, gempa bumi terjadi akibat pergerakan lempeng tektonik. Posisi tampak Saturnus dan Bulan di langit tidak memengaruhi kedua proses tersebut,” ujarnya.

Melalui fenomena ini, Izatul berharap masyarakat dapat memanfaatkannya sebagai sarana untuk meningkatkan literasi astronomi dan memahami bahwa berbagai fenomena langit dapat dijelaskan melalui prinsip-prinsip sains. 

Ia menilai konjungsi Saturnus dan Bulan merupakan momentum yang tepat untuk menumbuhkan rasa ingin tahu sekaligus memperkuat pemahaman publik terhadap ilmu pengetahuan. (dr)