Program OVOC IPB University Tingkatkan Pendapatan Petani Tugu Mukti hingga Dua Kali Lipat

Program OVOC IPB University Tingkatkan Pendapatan Petani Tugu Mukti hingga Dua Kali Lipat

program-ovoc-ipb-university-tingkatkan-pendapatan-petani-tugu-mukti-hingga-dua-kali-lipat.jpg
Berita / Pengabdian Masyarakat

Program One Village One CEO (OVOC) IPB University menghadirkan solusi atas persoalan klasik petani di Desa Tugu Mukti, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Melalui pemetaan pasar dan dukungan teknologi, program ini memberikan kepastian pasar sekaligus mendorong kenaikan pendapatan petani.

Selama ini, petani dihadapkan pada sejumlah tantangan, mulai dari fluktuasi harga, pendeknya umur simpan hasil panen, panjangnya rantai distribusi akibat tengkulak, hingga ketidakpastian pasar.

CEO OVOC Desa Tugu Mukti sekaligus mahasiswa Program Studi Silvikultur IPB University, Muhamad Rizki Hadi Pratama menerangkan, OVOC menghadirkan solusi melalui pemetaan tiga segmen pasar, yakni pasar modern, retail daerah, dan pasar lokal. 

“Skema ini membantu petani mendapatkan kepastian penyerapan hasil panen sekaligus mengurangi ketergantungan pada tengkulak. Pemetaan dan segmentasi pasar tersebut telah dijalankan secara konsisten sejak enam tahun lalu,” kata dia.

Selain itu, inovasi teknologi turut diperkuat dengan pemanfaatan automatic weather station (AWS) milik IPB University yang membantu petani memantau kondisi cuaca secara lebih akurat. Data seperti curah hujan, suhu, dan kelembapan dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan budi daya untuk menekan risiko produksi. Pemanfaatan teknologi ini juga telah diterapkan sejak enam tahun terakhir.

Di sisi pascapanen, teknologi ozonisasi yang dikembangkan bersama para peneliti IPB University mampu memperpanjang umur simpan komoditas hortikultura, khususnya selada air, hingga dua kali lipat. “Dengan adanya teknologi ozonisasi, umur simpan bisa dua kali lebih lama. Ini sangat membantu karena kami juga menembus pasar internasional,” jelas Hadi. 

Stabilitas harga menjadi salah satu dampak nyata dari program ini. “Dulu sebelum ada OVOC, selada bisa mencapai 500 rupiah per kilogram. Setelah kami bisa menjaga stabilitas pasok, harga bisa stabil di 15–16 ribu rupiah per kilogram,” ungkapnya.

Perubahan signifikan juga terjadi pada rantai distribusi. Sebelumnya, hasil panen harus melalui banyak perantara. “Dari tengkulak lokal, ke tengkulak desa, kecamatan, hingga bos besar, baru ke pasar induk. Sekarang dipangkas, dari petani ke hub, lalu langsung ke pasar modern,” katanya.

Melalui skema tersebut, “Harga jual ditetapkan bersama petani dengan margin minimal 10 persen di atas harga pokok produksi (HPP),” jelas Hadi, menegaskan adanya kesepakatan antara pengelola program dan petani.

Hadi berharap program OVOC dapat diperluas ke berbagai daerah di Indonesia agar semakin banyak petani merasakan manfaat inovasi, pendampingan, dan akses pasar yang lebih baik. (Fj)