Satu Abad Newcastle Disease, IPB University Ungkap Strategi Pengendalian Penyakit Tetelo dengan Vaksin Homolog

Satu Abad Newcastle Disease, IPB University Ungkap Strategi Pengendalian Penyakit Tetelo dengan Vaksin Homolog

satu-abad-newcastle-disease-ipb-university-ungkap-strategi-pengendalian-penyakit-tetelo-dengan-vaksin-homolog
Berita

IPB University mengulas potensi pengembangan vaksin homolog berbasis isolat lokal sebagai salah satu strategi pengendalian penyakit tetelo pada unggas, saat memperingati satu abad Newcastle Disease.

Newcastle Disease (ND) atau penyakit tetelo masih menjadi salah satu tantangan dalam pemeliharaan unggas. Setelah satu abad dikenal, pengendalian penyakit ini terus memerlukan penguatan strategi, salah satunya melalui pengembangan vaksin homolog berbasis isolat lokal. Pendekatan tersebut dinilai berpotensi meningkatkan perlindungan terhadap virus ND yang beredar di lapangan.

Potensi pengembangan vaksin tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Webinar Series #TNCTalksE18 bertajuk “Satu Abad Newcastle Disease: Refleksi dan Strategi Pengendalian untuk Peternakan Unggas Berkelanjutan” yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) IPB University pada Selasa (27/10).

Mewakili Kepala LPA2I IPB University, Bonjok Istiaji, SP, MSi, menyampaikan bahwa webinar ini menjadi ruang diskusi bagi akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha peternakan untuk memperkuat pemahaman mengenai tantangan pengendalian ND. Kolaborasi lintas sektor diperlukan agar upaya pengendalian penyakit dapat berjalan lebih efektif dan mendukung keberlanjutan usaha peternakan unggas.

“Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai tantangan pengendalian ND sekaligus mendukung keberlanjutan dan keuntungan usaha peternakan unggas,” ungkap Bonjok.

Dalam webinar tersebut, drh Juita Siregar dari Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Veteriner, Kementerian Pertanian, memaparkan potensi pengembangan vaksin homolog berbasis isolat lokal. Menurutnya, pengembangan vaksin ini perlu didukung data isolat virus yang memadai, identifikasi karakteristik virus, serta serangkaian pengujian untuk memastikan keamanan dan kemampuan proteksinya.

Ia menegaskan bahwa tidak semua isolat dapat digunakan sebagai kandidat vaksin. “Tidak semua jenis serotipe bisa dijadikan vaksin. Karena itu, pelaporan kasus dan pengumpulan sampel dari berbagai wilayah menjadi langkah penting untuk mendukung identifikasi serta karakterisasi virus sebelum penelitian kandidat vaksin dilakukan.”

Juita juga menyoroti keterbatasan pelaporan kasus ND, baik pada peternakan skala kecil maupun komersial. Padahal, data lapangan dapat menjadi dasar bagi pemerintah dan lembaga penelitian untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk analisis genotipe virus. Ia pun mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan akademisi agar strategi pengendalian didukung data yang lebih representatif.

Selanjutnya, dari sisi praktik peternakan, Idris membagikan pengalaman dalam mengelola kesehatan ayam petelur dan menjaga keberlangsungan produksi. Sementara itu, Dr drh Sri Murtini, dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, turut membahas tantangan pengendalian ND. Berbagai perspektif tersebut menegaskan bahwa pengendalian penyakit tetelo membutuhkan keterhubungan antara penelitian, kebijakan, dan penerapan langkah pencegahan di tingkat peternakan. (*/Rz)