Tim Ekspedisi Patriot IPB University Kenalkan Data Desa Presisi, Bantu Rumuskan Kebijakan Kampung di Semangga

Tim Ekspedisi Patriot IPB University Kenalkan Data Desa Presisi, Bantu Rumuskan Kebijakan Kampung di Semangga

tim-ekspedisi-patriot-ipb-university-kenalkan-data-desa-presisi-bantu-rumuskan-kebijakan-kampung-di-semangga
Pengabdian Masyarakat / Student Insight

Tim Ekspedisi Patriot (TEP) IPB University mengenalkan konsep Data Desa Presisi kepada perangkat dan kader kampung di Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Kegiatan bertema “Pemanfaatan Data Desa sebagai Upaya Menciptakan Kebijakan Kampung yang Presisi” ini diikuti oleh 20 peserta di Balai Kampung Marga Mulya (13–14/10).

Ketua TEP IPB University, Dr Mohammad Iqbal Irfany, menyampaikan bahwa kegiatan ini berangkat dari persoalan yang kerap dihadapi dalam pembangunan kampung. 

“Selama ini, niat baik pembangunan belum menghasilkan dampak yang maksimal. Jalan dibangun, tetapi rusak lagi. Bantuan disalurkan, tetapi tidak tepat sasaran. Hal itu terjadi bukan karena kita kurang bekerja keras, tetapi sering kali karena kebijakan tidak didasari oleh data yang akurat,” ujarnya.

Materi disampaikan oleh Lukman Hakim, SKPm, MSi, akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ekologi Manusia IPB University. Pada hari pertama, ia memaparkan konsep Data Desa Presisi sebagai inovasi metodologi pendataan desa. 

“Data Desa Presisi memadukan sensus partisipatif, data spasial dari citra drone, dan teknologi digital. Pendataannya dilakukan hingga tingkat individu dan keluarga, sehingga kampung mengetahui secara rinci kondisi setiap warganya beserta lokasinya. 

Dari data inilah kebijakan kampung dapat dirumuskan secara tepat sasaran, mulai dari verifikasi penerima bantuan hingga penentuan prioritas pembangunan,” jelasnya.

Pada hari kedua, peserta mempelajari tahapan perumusan kebijakan berbasis data, mulai dari identifikasi masalah hingga integrasi hasil analisis ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Desa, Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Desa, dan Anggaran Pendapatan dan Belanja (APB) Desa. Peserta lalu berlatih menentukan prioritas pembangunan akses air bersih di dua dusun melalui diskusi kelompok.

Kepala Kampung Marga Mulya, Sunaryo, menilai materi ini menjawab persoalan nyata di kampung. “Sudah sering terjadi di kampung kita, bantuan disalurkan, tetapi ternyata menyasar orang yang sudah mampu, namun tercatat dalam kategori tidak mampu. Hal ini terjadi karena data yang tidak sesuai,” tuturnya.

Kepala Kampung Matara, Roberto, juga merasakan manfaat serupa. Baginya, program ini sangat membantu mereka dalam menyusun konsep pembangunan kampung. 

“Selama ini, kami di kampung sering kali menjalankan program dan kebijakan secara intuitif. Melalui kegiatan ini, saya berharap ke depannya kampung-kampung di Distrik Semangga dapat lebih partisipatif dan aktif memanfaatkan data kampung sebagai dasar perumusan kebijakan,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, TEP IPB University berharap kampung-kampung di Distrik Semangga mampu membangun tata kelola pemerintahan berbasis data sehingga kebijakan yang dihasilkan lebih tepat sasaran, partisipatif, dan akuntabel. (*/Rz)