Siapkan 576 Mata Kuliah Digital, IPB University Kembangkan IPB Digital Core Standard

Siapkan 576 Mata Kuliah Digital, IPB University Kembangkan IPB Digital Core Standard

siapkan-576-mata-kuliah-digital-ipb-university-kembangkan-ipb-digital-core-standard
Berita / Pendidikan

Digitalisasi mata kuliah tidak cukup dilakukan dengan memindahkan materi perkuliahan konvensional ke format digital. Diperlukan perancangan ulang pengalaman belajar yang berorientasi pada penguasaan kompetensi mahasiswa.

Hal itu disampaikan Wakil Rektor IPB University Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan, Prof Deni Noviana dalam IPB Digital Course Workshop: Future Education in Action di Kampus IPB Dramaga, Bogor, Selasa (14/10).

“Teknologi bukan sekadar pelengkap pembelajaran, tetapi harus terintegrasi dalam desain pedagogis, mulai dari penyajian materi, aktivitas mahasiswa, hingga asesmen. Pertanyaan mendasarnya adalah kompetensi apa yang akan dikuasai mahasiswa dan bagaimana desain pembelajaran dapat membantu mereka mencapainya secara optimal,” ujarnya.

Satu Standar untuk 576 Mata Kuliah Digital
Prof Deni menyebutkan, IPB University telah memulai program digitalisasi dengan menyiapkan sekitar 576 mata kuliah untuk dikembangkan ke dalam format digital. Menurutnya, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah mata kuliah yang terdigitalisasi, tetapi juga dari kualitas konten, kesesuaiannya dengan capaian pembelajaran, keterlibatan mahasiswa, serta dampaknya terhadap peningkatan mutu pendidikan.

Agar pelaksanaannya sistematis dan konsisten di seluruh fakultas dan sekolah, IPB University mengembangkan IPB Digital Core Standard sebagai acuan bersama. Pendekatan ini menekankan konsep digital by design, yakni teknologi dirancang sejak awal sebagai bagian integral dari proses pembelajaran.

Inklusif dan Berorientasi Kompetensi
Prinsip tersebut sejalan dengan penegasan Direktur Transformasi Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran (DTPTP) IPB University, Prof Yulin Lestari, bahwa digitalisasi perlu berorientasi pada kompetensi, capaian pembelajaran, dan kebutuhan mahasiswa. 

Salah satu prinsip yang diterapkan adalah universal design for learning (UDL), yaitu pendekatan desain pembelajaran yang mempertimbangkan keragaman kebutuhan dan karakteristik mahasiswa agar akses terhadap pendidikan semakin inklusif.

“Pembelajaran di era disrupsi mengharuskan kita beradaptasi dengan ketersediaan konten digital. Orientasinya tetap pada kompetensi, capaian pembelajaran, dan mahasiswa sebagai pusat proses pembelajaran,” jelasnya.

AI dan Kolaborasi Tiga Pihak
Prof Yulin juga menyoroti potensi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk membantu pengembangan konten pembelajaran. Namun, pemanfaatannya harus tetap memperhatikan etika dan integritas akademik sesuai panduan penggunaan AI untuk tridarma di IPB University.

Dalam pelaksanaannya, digitalisasi melibatkan kolaborasi dosen sebagai pemilik substansi akademik, tim pengembangan pembelajaran yang mendukung inovasi pedagogis, serta tim teknis yang menangani produksi konten dan integrasi ke dalam learning management system (LMS).

Melalui workshop ini, ia berharap setiap peserta menghasilkan rancangan digitalisasi mata kuliah yang konkret, terukur, dan siap digunakan, sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem pembelajaran yang adaptif, inklusif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas lulusan. (AS)