Mesin Pertanian Tak Bisa Seragam, Prof Wawan Hermawan: Desain Harus Sesuai Karakteristik Lahan dan Petani

Mesin Pertanian Tak Bisa Seragam, Prof Wawan Hermawan: Desain Harus Sesuai Karakteristik Lahan dan Petani

Mesin Pertanian Tak Bisa Seragam, Prof Wawan Hermawan: Desain Harus Sesuai Karakteristik Lahan dan Petani
Riset dan Kepakaran

Kemandirian mekanisasi pertanian Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan mesin, tetapi juga membutuhkan kemampuan merancang teknologi yang sesuai dengan karakteristik lahan, tanaman, lingkungan budi daya, serta kebutuhan petani.

Hal tersebut disampaikan Prof Wawan Hermawan, Guru Besar Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University, saat menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Desain Mesin sebagai Jantung Inovasi Mekanisasi Pertanian Indonesia” yang disampaikan pada Sabtu, (24/10).

Menurut Prof Wawan, mesin pertanian yang berhasil digunakan di satu lokasi belum tentu memberikan hasil yang sama di lokasi lain. Kondisi tanah sawah di Indonesia yang beragam, termasuk tanah berlumpur dalam, membuat desain mesin perlu disesuaikan dengan karakteristik tanah, lingkungan budi daya, tanaman, hingga ternak.

“Kemajuan pertanian tidak ditentukan semata oleh keberadaan mesin, tetapi oleh kemampuan bangsa dalam mendesain mesin yang sesuai dengan kebutuhan agroekosistem, komoditas, kondisi sosial ekonomi, dan karakteristik petani Indonesia,” jelasnya.

Ia menjelaskan, proses desain mesin harus dimulai dengan mempelajari dan mengukur karakteristik objek yang akan ditangani. Data tersebut kemudian digunakan untuk menentukan parameter desain agar mesin dapat bekerja secara efektif sesuai kondisi lapangan.

Dari Atasi Slip Roda hingga Vacuum Seeder Presisi

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah roda bersirip gerak dengan mekanisme pegas untuk meningkatkan kemampuan traksi traktor di lahan sawah basah. Hasil pengujian menunjukkan, desain ini mampu menurunkan slip roda dari 20,89 persen menjadi 11,54 persen serta meningkatkan efisiensi lapangan dari 68,45 persen menjadi 76,33 persen.

Selain itu, Prof Wawan mengembangkan mesin terintegrasi dan presisi, yang mengintegrasikan pengolahan tanah, pemupukan, dan penanaman dalam satu lintasan kerja. Pengembangan Four-Row Precision Vacuum Seeder untuk kedelai mampu mencapai kapasitas kerja 0,31 hektare per jam dengan efisiensi lapangan 87,9 persen. Sistem ini juga mencapai tingkat ketepatan penempatan satu benih pada setiap titik tanam hingga 100 persen.

Inovasi lainnya berupa mesin pengkondisi pakan sapi yang menggabungkan tiga fungsi, yaitu meratakan pakan, membalik atau mengaduk pakan, serta mengumpulkan sisa pakan secara pneumatik. Mesin ini telah teruji di peternakan sapi dapat membantu meratakan pemberian pakan sekaligus.

Perlu Generasi Inovator

Bagi Prof Wawan, pengembangan teknologi tersebut perlu diikuti dengan penyiapan sumber daya manusia yang mampu meneruskan inovasi. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mencetak tenaga ahli yang tidak hanya mampu mengoperasikan mesin, tetapi juga merancang dan mengembangkan teknologi sesuai kebutuhan pertanian Indonesia.

“Karya terbesar seorang akademisi bukanlah sekadar prototipe mesin yang berhasil dibuat, melainkan lahirnya generasi inovator dan tenaga ahli desain yang siap melanjutkan pengembangan teknologi nasional secara mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ke depan, pengembangan mekanisasi diarahkan pada teknologi yang adaptif terhadap karakteristik tanah, sistem budi daya presisi, dan integrasi mekanisasi yang efisien dan berkelanjutan. (Ez)