Bakteri Pembawa Gen Resistansi Antimikrob Ditemukan di Ekosistem Pemotongan Hewan, Ini Kata Prof Hadri Latif

Bakteri Pembawa Gen Resistansi Antimikrob Ditemukan di Ekosistem Pemotongan Hewan, Ini Kata Prof Hadri Latif

Bakteri Pembawa Gen Resistansi Antimikrob Ditemukan di Ekosistem Pemotongan Hewan, Ini Kata Prof Hadri Latif
Riset dan Kepakaran

Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof drh Hadri Latif, mengungkapkan temuan gen resistansi antikrob pada bakteri Escherichia coli (E coli) dari ekosistem tempat pemotongan hewan di Provinsi Banten. Temuan ini menunjukkan potensi penyebaran gen resistansi di antara sektor hewan, lingkungan, dan manusia yang perlu diwaspadai.

“Salah satu jalur mikroorganisme yang sudah resistan terhadap antimikrob untuk berpindah itu adalah melalui pangan,” ujarnya dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, Sabtu (24/10).

Menurut Prof Hadri, gen resistansi dapat berpindah dari satu bakteri ke bakteri lain melalui mekanisme transfer gen secara horizontal, salah satunya konjugasi. Perpindahan ini berpotensi membuat bakteri penyebab penyakit menjadi kebal terhadap antimikrob tertentu sehingga infeksi lebih sulit diobati.

Studi Genomik Ungkap Pola Resistansi

Dalam kajian bertajuk Membaca Jejak Resistansi Antimikrob: Pendekatan Genomik untuk Kebijakan Berbasis One Health di Indonesia, Prof Hadri memaparkan penelitian yang dilakukan di Banten sejak 2023. Studi ini mengintegrasikan analisis genomik bakteri dari sektor manusia, hewan, dan lingkungan.

Peneliti menggunakan teknologi whole-genome sequencing (WGS) untuk membaca materi genetik bakteri secara menyeluruh. Teknologi ini membantu mengidentifikasi gen resistansi antimikrob (ARG), lokasi gen pada plasmid atau kromosom, serta potensi resistansi terhadap beberapa kelas antimikrob sekaligus.

Pada sampel dari tempat pemotongan babi, ditemukan gen resistansi yang berkaitan dengan 12 kelas antimikrob. Potensi resistansi terhadap tiga kelas antimikrob atau lebih (multidrug resistance/MDR) mencapai 90 persen pada isolat hewan, 40 persen pada isolat lingkungan, dan 12,7 persen pada isolat manusia.

“Pada isolat E coli dari hewan dan lingkungan, sekitar 85 persen gen resistansinya ditemukan pada plasmid,” jelas Prof Hadri. Plasmid merupakan materi genetik yang dapat berperan dalam perpindahan gen resistansi antarbakteri.

Penelitian juga menemukan perubahan profil gen resistansi antara 2023 dan 2026. Gen mcr-1.1 yang berkaitan dengan resistansi terhadap kolistin terdeteksi pada 2023, tetapi tidak lagi ditemukan pada 2026. Perubahan ini sejalan dengan penghentian penggunaan kolistin pada hewan.

Bijak Menggunakan Antibiotik

Prof Hadri mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan menggunakan antibiotik, termasuk untuk mengatasi batuk dan pilek. “Batuk pilek belum tentu penyebabnya bakteri bahkan penyebab utamanya adalah virus . Padahal virus tidak bisa diobati dengan antibiotik,” ungkapnya.

Ia menegaskan, “Antibiotik itu justru diciptakan untuk membantu, untuk menolong manusia.” Karena itu, antibiotik perlu digunakan secara bijak, sesuai resep dan petunjuk dokter, bukan berdasarkan perkiraan sendiri.

Menurut Prof Hadri, pengendalian resistansi antibiotik membutuhkan pendekatan terpadu pada manusia, hewan, dan lingkungan.

Pemanfaatan teknologi genomik dapat membantu memetakan gen resistansi dan mendukung penyusunan kebijakan pengendalian yang lebih tepat melalui pendekatan One Health. (Fj)