Dosen IPTP IPB Jalin Sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Sigi untuk Inovasi Kelembagaan SPR dan SASPRI

Dosen IPTP IPB Jalin Sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Sigi untuk Inovasi Kelembagaan SPR dan SASPRI

dosen-iptp-ipb-jalin-sinergi-dengan-pemerintah-kabupaten-sigi-untuk-inovasi-kelembagaan-spr-dan-saspri
Pengabdian Masyarakat

Tim dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University menggelar pertemuan dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi dalam rangka membahas penguatan usaha rakyat melalui pendekatan Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) dan jejaring Solidaritas Alumni SPR Indonesia (SASPRI).

Pertemuan berlangsung di Kantor Bupati Sigi dan dihadiri oleh Wakil Bupati Sigi, Dr Samuel Yansen Pongi, Prof Muladno selaku penggagas SPR, tim dosen dan mahasiswa Program Studi Doktor IPTP serta perwakilan SASPRI-Nasional. Turut hadir Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Kemasyarakatan, dan Sumber Daya Manusia sekaligus Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas (Kadis) Peternakan dan Kesehatan Hewan, Rahmad Iqbal Nurkhalish, dan perwakilan Pemkab Sigi.

Agenda ini bertujuan untuk memperkuat sinergi perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mengembangkan usaha rakyat melalui inovasi kelembagaan yang berkelanjutan.

SPR merupakan salah satu inovasi kelembagaan yang dikembangkan IPB University untuk mendorong transformasi usaha rakyat melalui pembelajaran partisipatif, yang fokus pada perubahan mindset, pembangunan kewirausahaan kolektif, serta penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Prof Muladno mengatakan bahwa proses SPR tidak berhenti setelah peserta menyelesaikan pembelajaran. Keberlanjutan proses tersebut diperkuat melalui SASPRI sebagai wadah jejaring alumni SPR di tingkat nasional.

“Keberlanjutan SPR ditunjukkan dengan tetap terhubungnya melalui SASPRI untuk memperkuat kelembagaan, membangun usaha kolektif, dan saling belajar antarkawasan,” ujar Guru Besar Fapet IPB University itu.

Menurut dia, Kabupaten Sigi mempunyai modal kelembagaan yang kuat dengan telah terbentuknya lima SASPRI-Kawasan (SASPRI tingkat kecamatan). Keberadaan kawasan tersebut kemudian diperkuat melalui konsep “Bupati SASPRI”, yaitu semangat dan mekanisme koordinasi antarkawasan pada tingkat kabupaten untuk bersama-sama memajukan usaha rakyat lokal.

Koordinasi tersebut memungkinkan setiap kawasan untuk tidak hanya saling bertukar pengalaman, tetapi juga memperkuat usaha kolektif, dan mengembangkan potensi daerah secara lebih terarah. 

“Harapannya SASPRI menjadi bagian dari mata rantai pembangunan daerah sekaligus penghubung antara pelaku usaha di tingkat kawasan dengan jejaring yang lebih luas,” tambahnya.

Dalam pertemuan tersebut turut dibahas peluang penerapan pendekatan SPR pada komoditas sarang burung walet (SBW). Persoalan usaha walet yang masih terfragmentasi dapat direspons melalui konsolidasi pemilik rumah walet, penguatan koperasi produsen, standardisasi produksi, hingga keterhubungan dengan offtaker. Model ini diharapkan dapat memperkuat posisi tawar dan daya saing pelaku usaha.

Pemkab Sigi berperan sebagai pemangku kebijakan dan fasilitator pembangunan, sementara SASPRI mendukung penguatan kapasitas dan kelembagaan masyarakat. Sinergi tersebut menunjukkan bahwa inovasi yang dikembangkan perguruan tinggi dapat terus diterapkan dan dikembangkan melalui jejaring masyarakat dengan dukungan pemerintah daerah.

Melalui kolaborasi tersebut, pengembangan SPR dan SASPRI di Kabupaten Sigi diharapkan mampu memperkuat usaha rakyat yang lebih mandiri, kolektif, dan berkelanjutan, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan potensi ekonomi daerah berbasis pengetahuan dan inovasi. (*/Rz)