Dosen IPB University Jelaskan Cara Lepas Tukik yang Sesuai Animal Welfare
Dosen Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan IPB University, Dr Mohammad Mukhlis Kamal, memberikan tanggapan terkait cara pelepasan tukik atau anak penyu yang langsung diarahkan ke laut.
Dalam video yang beredar, tukik dilepaskan dari dalam ember secara langsung ke arah gelombang laut. Hal tersebut dinilai menghilangkan tahapan alami tukik untuk melewati hamparan pasir pantai sebelum memasuki perairan.
Menurut Dr Mukhlis, pelepasan tukik dengan cara tersebut pada prinsipnya tidak menjadi masalah, selama dilakukan dengan memperhatikan kondisi dan kesejahteraan tukik.
“Dengan cara melepaskannya saat ombak menghempas pantai, menurut opini saya tidak apa-apa. Gerakan dinamis air akibat hantaman ombak bukan masalah, karena tubuh tukik dengan kaki depan sebagai ‘dayung’ akan mengatasinya,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui bahwa pelepasan dengan cara tersebut dapat menimbulkan stres pada tukik karena tidak dilakukan secara perlahan.
Lima Prinsip Animal Welfare
Umumnya, tukik dilepaskan dengan cara diletakkan di pantai. Secara alamiah, apabila tukik ditempatkan dengan posisi berlawanan dengan arah hempasan air laut ke pantai, tukik akan berbalik arah dan bergerak menuju laut.
Dr Mukhlis juga menanggapi banyaknya komentar negatif terhadap video yang memperlihatkan tukik dituangkan langsung ke pantai karena dinilai tidak mengikuti prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare).
“Dalam prinsip animal welfare, terdapat lima aspek yang perlu diperhatikan, yakni bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari rasa tidak nyaman, bebas dari rasa takut atau stres, bebas mengekspresikan perilaku alamiah, serta bebas dari cedera dan rasa sakit.
Hindari Sentuhan Tangan
Menurut Dr Mukhlis, hal yang justru perlu lebih diperhatikan adalah menghindari kontak langsung antara tukik dan tangan manusia saat akan dilepaskan. Pengalaman tersebut, katanya, diperoleh saat dirinya melakukan pelepasan penyu di Pantai Pangumbahan, Jawa Barat.
“Yang justru paling perlu diperhatikan adalah hindari kontak langsung tukik dengan tangan manusia saat akan melepaskannya. Mungkin khawatir ada kontak bakteri atau virus dari tangan manusia ke tukik,” katanya.
Konservasi Tak Sekadar Lepas Liar
Dr Mukhlis mengatakan, kegiatan penangkaran penyu yang dilakukan saat ini pada prinsipnya telah mengikuti standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.
Upaya konservasi dilakukan melalui perlindungan terhadap tempat peneluran, tempat mencari makan, serta penyediaan koridor migrasi melalui marine protected area (MPA) atau kawasan konservasi perairan.
Selain perlindungan habitat, konservasi juga dilakukan melalui intervensi manusia. Telur penyu yang ditemukan di lokasi peneluran, selain dilindungi, dapat dipindahkan ke tempat penangkaran untuk dilakukan penetasan buatan dengan perlakuan suhu tertentu.
Menurut Dr Mukhlis, langkah tersebut bertujuan melindungi telur penyu dari perburuan manusia serta ancaman predator, seperti babi, anjing, biawak, dan satwa lainnya. Telur kemudian ditetaskan hingga menjadi tukik dan selanjutnya dilepasliarkan kembali ke laut.
Jangan Terlalu Lama
Dr Mukhlis mengatakan, waktu ideal untuk melepas tukik adalah sekitar satu minggu setelah menetas. “Bilamana ditahan terlalu lama, dikhawatirkan akan mengurangi kemampuan nalurinya untuk ‘pulang’,” ujarnya. (dh)
