Perkuat Benteng Ekosistem Terumbu Karang, PKSPL IPB University Tingkatkan Kapasitas SDM di Bangka Belitung
Upaya penyelamatan dan pelestarian ekosistem terumbu karang di kawasan perairan laut Indonesia terus diperkuat. Salah satunya seperti yang dilakukan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University lewat Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pengelola Kawasan Konservasi Perairan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (26–29/8).
Kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam implementasi program The Strategic Action Programme for the South China Sea and Gulf of Thailand in Indonesia (SCS SAP). Fokus utama SCS SAP menyasar pada keberlanjutan ekosistem terumbu karang yang kian rentan.
Program tersebut merupakan kolaborasi internasional antara Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Republik Indonesia, United Nations Office for Project Services (UNOPS), dan PKSPL IPB University.
Dalam sambutan pembuka, Kepala PKSPL IPB University, Prof Yonvitner, menegaskan pentingnya terobosan dalam pola pengelolaan perairan pesisir.
“Pendekatan pengelolaan yang adaptif dan holistik sangat diperlukan dalam menjaga kelestarian dan keberlanjutan fungsi ekosistem terumbu karang. Keterpaduan pengelolaan berbasis masyarakat dan mengakomodasi pemanfaatan ganda (multiple use) menjadi sangat relevan.
Hal ini penting karena tidak hanya mempertimbangkan aspek ekologi semata, tetapi juga memperhatikan dimensi sosial dan ekonomi masyarakat yang sangat bergantung pada sumber daya pesisir,” ujar Prof Yonvitner.
Koordinator Penanggung Jawab Nasional Program SCS SAP, Drs Heru Waluyo Koesworo, MCom, menyampaikan, “Dampak degradasi lingkungan di kawasan Laut China Selatan berdampak nyata ke wilayah perairan Indonesia, dan inilah alasan utama hadirnya program SCS SAP.
Melalui pelatihan ini, kami berharap dapat membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk berpartisipasi langsung, baik dalam pelaksanaan maupun pengembangan pascakegiatan,” jelas Heru.
Dukungan senada juga ditegaskan oleh Direktur Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Wilayah Pesisir dan Laut KLH/BPLH, Drs Sayid Muhadhar, MSi. Ia berharap momentum pelatihan ini menjadi stimulus nyata bagi efektivitas kawasan konservasi daerah.
“Kami berharap pelatihan ini memberikan dampak positif secara langsung terhadap efektivitas pengelolaan kawasan konservasi, khususnya dalam mendukung perlindungan dan keberlanjutan ekosistem terumbu karang di Kepulauan Bangka Belitung,” tuturnya.
Guna menciptakan dampak yang luas dan terintegrasi, pelatihan ini melibatkan jajaran pemangku kepentingan (stakeholders) dari berbagai instansi lintas kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, seperti Bappeda, DKP, DLHK, UPT Konservasi DKP.
Selain itu, Loka Pengelolaan Kelautan (LPK) Pekanbaru dan jajaran Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Perikanan dari lima kabupaten: Kabupaten Belitung Timur, Bangka Selatan, Bangka Barat, Bangka, Bangka Tengah, dan Belitung-juga turut serta aktif untuk memperkuat kapasitas pengelolaan kawasan pesisir secara sinergis. (*/Rz)
