Polemik Lagu Merendahkan Perempuan, Dosen IPB University Soroti Pentingnya Ruang Informasi Ramah Keluarga

Polemik Lagu Merendahkan Perempuan, Dosen IPB University Soroti Pentingnya Ruang Informasi Ramah Keluarga

polemik-lagu-merendahkan-perempuan-dosen-ipb-university-soroti-pentingnya-ruang-informasi-ramah-keluarga.jpg
Ilustrasi: magnific
Riset dan Kepakaran

Polemik lagu yang dinyanyikan salah satu pejabat publik dan dinilai mengandung lirik yang merendahkan perempuan memicu banyak tanggapan di masyarakat.

Menurut Rahmi Damayanti, SSi, MSi, dosen Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, kejadian ini perlu dipandang lebih luas sebagai pengingat pentingnya membangun ruang informasi yang mendukung nilai-nilai kehidupan keluarga.

Rahmi menjelaskan, keluarga tidak hidup terpisah dari lingkungan. Setiap hari, keluarga menerima berbagai informasi melalui media, karya seni, maupun ruang publik yang kemudian dimaknai dan dapat memengaruhi nilai-nilai yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari.

“Yang terpenting bukan sekadar polemik sebuah lagu, tetapi bagaimana kita bersama-sama menghadirkan ruang informasi yang ramah keluarga dan menjunjung tinggi martabat setiap manusia,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa setiap narasi yang merendahkan seseorang, baik perempuan maupun laki-laki, berpotensi memengaruhi cara keluarga memandang nilai-nilai yang ingin diwariskan kepada anggotanya. Karena itu, ruang publik perlu menghadirkan konten yang menghormati martabat manusia.

Menurut Rahmi, besarnya respons masyarakat terhadap polemik tersebut justru merupakan sinyal positif. Hal itu menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki kepekaan terhadap karya atau informasi yang dianggap tidak sejalan dengan nilai-nilai yang mereka yakini.

“Kepekaan ini penting karena menunjukkan masyarakat tidak apatis terhadap nilai yang berkembang di sekitarnya. Lingkungan informasi yang sehat juga menjadi modal penting bagi keluarga dalam menanamkan nilai kehidupan,” jelasnya.

Rahmi mengingatkan, apabila narasi yang merendahkan seseorang terus dianggap sebagai candaan atau sesuatu yang lumrah, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh kelompok yang menjadi sasaran, tetapi juga dapat mengikis nilai-nilai dasar dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurutnya, normalisasi narasi yang merendahkan berpotensi melemahkan sikap saling menghargai, saling menjaga, dan menghormati sesama sebagai pribadi yang bermartabat. Oleh sebab itu, polemik ini sebaiknya menjadi momentum untuk menegaskan kembali peran keluarga sebagai tempat pertama menanamkan penghormatan terhadap martabat setiap manusia.

Rahmi berharap masyarakat semakin bijaksana dalam menyikapi maupun menghasilkan karya di ruang publik. Menurutnya, setiap karya memiliki ruang untuk berekspresi, tetapi juga mengemban tanggung jawab moral karena akan diterima dan dimaknai oleh masyarakat, termasuk keluarga.

Ia menambahkan, keluarga, masyarakat, media, dan para pembuat karya memiliki peran yang saling melengkapi dalam membangun lingkungan informasi yang sehat. Dengan kolaborasi tersebut, ruang publik diharapkan mampu mendukung tumbuhnya nilai-nilai yang menghargai martabat manusia sekaligus memperkuat nilai kehidupan berkeluarga. (Lp)