IPB University Dukung Tumbuh Kembang Anak di Lima Wilayah Lingkar Kampus Lewat SKB
Sekolah Keluarga Berkualitas (SKB) IPB University kembali hadir untuk mendukung tumbuh kembang anak melalui peningkatan kapasitas keluarga di lima wilayah lingkar kampus, yakni Desa Cikarawang, Desa Dramaga, Desa Ciherang, Kelurahan Semplak, dan Kelurahan Curug Mekar.
Komitmen tersebut ditandai melalui kegiatan focus group discussion (FGD) dan penandatanganan surat komitmen bersama para kepala desa dan lurah di Agribusiness and Technology Park (ATP) IPB University, Bogor.
Program Sekolah Keluarga Berkualitas merupakan inisiatif Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPAI) bersama Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) IPB University. Program ini bertujuan membekali masyarakat agar memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan terkait konsep keluarga berkualitas, sejahtera, dan produktif.
Selain itu, program ini dirancang untuk melahirkan fasilitator yang mampu mendampingi proses pembelajaran dan pemberdayaan keluarga di tingkat desa maupun kelurahan.
Dr Iqbal Irfany, Asisten Bidang Techno-sociopreneurship LPAI IPB University, membuka rangkaian kegiatan SKB 2026. Ia menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen pengabdian masyarakat IPB University.
“IPB hadir untuk berbagi ilmu dalam mewujudkan keluarga berkualitas melalui program Sekolah Keluarga Berkualitas,” ujarnya.
Menurutnya, pembangunan keluarga merupakan fondasi penting dalam menciptakan masyarakat yang tangguh dan berdaya saing. Karena itu, peningkatan kapasitas fasilitator menjadi langkah strategis untuk melahirkan agen perubahan dan memperluas dampak program hingga tingkat komunitas.
Pada sesi penyamaan persepsi, Dr Tin Herawati selaku Ketua Departemen IKK menjelaskan pentingnya membangun keluarga berkualitas dan produktif sebagai modal utama pembangunan sosial menuju Indonesia Emas. Ia menekankan bahwa keluarga memiliki peran sentral dalam membentuk sumber daya manusia yang sehat, berkarakter, dan tangguh menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Mengapa keluarga? Keluarga yang baik akan menghasilkan anak-anak yang baik. Anak-anak yang baik akan menjadi sumber daya manusia unggul di tiap desa. Keluarga merupakan sarana utama dalam mendidik anak,” jelasnya, Kamis (4/6).
Sesi berikutnya, Ulty Midayati, fasilitator SKB 2025, yang berbagi pengalaman selama mendampingi keluarga di lapangan. Ia menceritakan salah satu pengalaman yang paling berkesan saat memberikan edukasi mengenai gizi dan tumbuh kembang anak kepada ibu hamil. Menurutnya, pendekatan yang komunikatif dan dekat dengan keseharian peserta menjadi kunci keberhasilan dalam penyampaian materi.
“Saya ingat betul ada ibu hamil yang sedang ingin makan seblak. Dari situ kami berdiskusi bahwa makanan yang dikonsumsi selama kehamilan dapat memengaruhi kesehatan janin. Karena itu, kami mengajak mereka untuk lebih bijak memilih makanan dan mengurangi konsumsi makanan yang kurang sehat demi tumbuh kembang anak yang optimal,” tuturnya.
Berbagai masukan dan rekomendasi yang dihimpun dalam FGD ini akan menjadi bahan pengembangan model pelaksanaan SKB yang lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.
Untuk tahun 2026 ini, pendaftaran SKB dibuka hingga 21 Juni 2026 dan telah menarik minat 339 pendaftar. IPB University berharap program ini dapat memperkuat kapasitas fasilitator dalam mendampingi keluarga Indonesia sehingga mampu mewujudkan keluarga yang berkualitas, mandiri, dan produktif. (*/Rz)
