Australia Sukses Gunakan RoBird, Pakar IPB University: Berpotensi Jadi Masa Depan Pengendalian Hama Burung

Australia Sukses Gunakan RoBird, Pakar IPB University: Berpotensi Jadi Masa Depan Pengendalian Hama Burung

australia-sukses-gunakan-robird-pakar-ipb-university-berpotensi-jadi-masa-depan-pengendalian-hama-burung.jpg
RoBird, robot burung, berhasil mengurangi kerusakan buah stroberi hingga 89%. Photo: (ABC Rural: Jennifer Nichols)
Berita / Riset dan Kepakaran

Kerugian pertanian akibat hama burung di Australia diperkirakan mencapai lebih dari 300 juta dolar per tahun. Burung-burung seperti perkici (lorikeet) sering menyerang tanaman bernilai tinggi, seperti stroberi, anggur, dan biji-bijian.

Menurut Prof Ronny Rachman Noor, Pakar Genetika Ekologi IPB University, mengatasi masalah tersebut tidak mudah. Pasalnya, di Australia masih banyak burung liar yang dilindungi.

Selama ini, metode konvensional untuk mengusir burung liar di hortikultura Australia meliputi penggunaan jaring, alat pengusir suara, objek reflektif, dan tiruan predator. Meskipun beberapa metode ini cukup efektif, sering kali memerlukan biaya yang tidak sedikit, dapat berdampak buruk pada lingkungan, dan burung pun cepat beradaptasi.

Burung Pemangsa Robotik
Prof Ronny menyebut, saat ini Australia tengah mengembangkan solusi inovatif. Perpaduan pengetahuan tentang perilaku burung dan teknologi mutakhir telah menghadirkan inovasi robot burung pemangsa ‘RoBird’. 

Pada dasarnya, RoBird menirukan strategi alami elang peregrine, burung tercepat di dunia, untuk melindungi hasil panen dari serangan burung lain yang sering merusak tanaman pertanian.

“Hal yang paling menarik perhatian adalah desain biomimetik yang menakjubkan, termasuk ukuran, siluet, dan pola terbang yang sangat mirip dengan elang asli sehingga burung pengganggu merasa terancam,” jelasnya.

Lebih detail, RoBird menggunakan sayap busa poli fleksibel yang dapat mengepak mengitari lahan pertanian selama sekitar 15 menit berkat baterai isi ulang, membuatnya lebih efisien. Robot ini dirancang ringan, beratnya kurang dari satu kilogram sehingga nyaman digunakan dan aman untuk satwa liar karena hanya berfungsi untuk menakuti, bukan melukai.

Hasil uji coba RoBird di berbagai kebun stroberi di Australia menunjukkan penurunan kerusakan buah akibat ulah burung hingga 89 persen. “Drone ini sangat membantu dalam mengusir burung dengan cara yang ramah lingkungan, tanpa harus menggunakan tembakan gas atau mengganggu ekosistem seperti jaring yang bisa menjebak satwa lain,” ujar Prof Ronny.

Prediksi Masa Depan
Ke depan, Prof Ronny memprediksi RoBird akan semakin dikenal luas sebagai solusi pengusir hama, terutama di bidang pertanian hortikultura yang bernilai tinggi. Petani stroberi, anggur, apel, dan tanaman ekspor lainnya akan sangat terbantu karena RoBird menjadi alat utama untuk melindungi hasil panen mereka, sehingga petani dapat merasa lebih tenang dan yakin saat bekerja.

Menurut Prof Ronny, teknologi RoBird ini menjadi semakin hebat ketika dipadukan dengan teknologi pintar. Drone-nya bisa diprogram untuk patroli otomatis, terhubung dengan sensor internet of things IoT dan kamera akal imitasi (AI), sehingga dapat mendeteksi burung secara real-time dengan lebih akurat dan efisien.  

“Dari segi biaya, penggunaan teknologi ini akan sangat menguntungkan dalam jangka panjang. Meskipun investasi awalnya cukup besar, penghematan yang diperoleh dari berkurangnya kerusakan tanaman akan membuat teknologi ini sangat ekonomis dan layak untuk dipertimbangkan,” tutur Prof Ronny.

Dengan kemajuan teknologi ini, Prof Ronny menilai bahwa Australia berpeluang besar untuk menjadi pelopor dunia dalam penggunaan drone biomimetik untuk pertanian yang ramah lingkungan. “Kesuksesan awal yang menjanjikan membuat RoBird diperkirakan akan menjadi standar baru dalam perlindungan tanaman di Australia selama 5–10 tahun ke depan, terutama di bidang hortikultura bernilai tinggi,” tutupnya. (*/Rz)