Solusi Prof Dwi Rachmina Atasi Stagnasi Kredit Pertanian

Solusi Prof Dwi Rachmina Atasi Stagnasi Kredit Pertanian

solusi-prof-dwi-rachmina-atasi-stagnasi-kredit-pertanian.jpg
Ilustrasi (freepik)
Berita / Riset dan Kepakaran

Sektor pertanian Indonesia masih terjebak dalam agricultural finance paradox. Meski menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, porsi kredit perbankan ke sektor ini stagnan di angka 6 hingga 7 persen. Menjawab tantangan tersebut, Prof Dwi Rachmina memaparkan urgensi transformasi pembiayaan berbasis rantai nilai dalam acara Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University yang digelar secara daring, Kamis (23/4).

Prof Dwi menjelaskan bahwa hambatan utama aliran modal ke petani kecil adalah risiko produksi yang tinggi dan sistem agunan yang kaku. Sebagai solusi, ia mengenalkan model Value Chain-Based Agricultural Finance Transformation. Model ini menggeser paradigma pembiayaan dari berbasis individu menjadi berbasis hubungan ekonomi antarpelaku dalam ekosistem agribisnis.

Dalam sesi diskusi, ia menekankan bahwa efektivitas model ini sangat bergantung pada komitmen seluruh pemangku kepentingan. Berdasarkan kajian empiris, model rantai nilai ini mampu meningkatkan akses petani terhadap pembiayaan sekitar 30 sampai 40 persen.

Salah satu terobosan yang ditawarkan adalah penggunaan kontrak sebagai pengganti agunan fisik. “Agunannya bukan berupa fisik, tapi kontrak purchase guarantee (PG). Di sinilah rantai nilai berperan meningkatkan kepercayaan bank terhadap petani terkait pengembalian dana,” ungkapnya.

Dengan adanya kontrak kepastian pembeli, lembaga keuangan formal memiliki dasar yang lebih kuat untuk menyalurkan kredit. 

Selain itu, ia juga menyebut digitalisasi ekosistem agribisnis sebagai bagian penting dalam mencapai transformasi ini. Meski demikian, ia menggarisbawahi bahwa teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan kelembagaan di tingkat tapak.

“Implementasinya perlu didukung dengan ekosistem lain seperti penguatan kelembagaan petani, termasuk meningkatkan kemampuan literasi digital. Proses ini tidak bisa instan,” tambahnya.

Melalui agenda kebijakan yang fokus pada digitalisasi, inovasi instrumen keuangan, dan penguatan manajemen risiko, transformasi ini diharapkan menjadi fondasi bagi pembangunan agribisnis yang efisien dan inklusif. Integrasi antara sistem keuangan dan rantai nilai diharapkan dapat memutus rantai “Indonesia agricultural finance trap” yang selama ini menghambat produktivitas petani kecil di perdesaan. (MW)