Program Kampus Berdampak ‘OVOC’ IPB University dan Astra Tingkatkan Pendapatan Petani hingga 108 Persen dan Tembus Ekspor

Program Kampus Berdampak ‘OVOC’ IPB University dan Astra Tingkatkan Pendapatan Petani hingga 108 Persen dan Tembus Ekspor

program-kampus-berdampak-ovoc-ipb-university-dan-astra-tingkatkan-pendapatan-petani-hingga-108-persen-dan-tembus-ekspor
Hot News

IPB University bersama PT Astra International Tbk meluncurkan program Kampus Berdampak melalui inisiatif One Village One CEO (OVOC) dan Desa Sejahtera Astra di Kabupaten Bandung Barat. Program ini mengintegrasikan riset, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan desa serta membuka akses pasar hingga ekspor.

Rektor IPB University, Dr Alim Setiawan Slamet, menegaskan program ini sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). “Prioritasnya adalah bagaimana mengembangkan kampus berdampak agar lebih banyak manfaat dari riset dan inovasi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, IPB mengusung visi Techno-sociopreneur University dengan mendorong hilirisasi inovasi di desa agar memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Program OVOC dan Desa Sejahtera Astra menjadi wadah implementasi inovasi tersebut melalui pendampingan langsung di lapangan.

Program ini juga mendapat dukungan pemerintah daerah. Wakil Bupati Bandung Barat, H Asep Ismail, menyatakan program ini dinantikan perluasannya ke wilayah lain. “Kami sangat mengapresiasi kegiatan Kampus Berdampak ini. Sudah saatnya kampus kembali ke masyarakat dan memberikan solusi nyata,” ujarnya. Ia menambahkan, program serupa kini ditunggu untuk diterapkan di 164 desa lainnya di Bandung Barat. 

Dari sisi industri, Head of Environment and Social Responsibility PT Astra, Diah Suran Febrianti, menekankan pentingnya sinergi multipihak sekaligus dampak ekonomi yang dihasilkan. “Pendapatan petani meningkat hingga 108 persen, dari sekitar Rp1,2 juta menjadi Rp2,5 juta per bulan,” ujarnya.

Secara konkret, program ini telah mengelola 20 hektare lahan hortikultura dengan produktivitas mencapai 2 ton per hari atau 60 ton per bulan. Sekitar 400–650 masyarakat terlibat, 250 lapangan kerja tercipta. Produk hortikultura terserap pasar hingga 100 persen dan menembus ekspor ke Singapura.

Direktur Bina Talenta Penelitian dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Prof Heri Kuswanto, menilai program ini sebagai model kolaborasi ideal. “Program pengabdian dan riset harus berbasis pada permasalahan di masyarakat,” ujarnya.

Implementasi program OVOC menghadirkan inovasi teknologi yang langsung diterapkan di lapangan. Salah satunya adalah teknologi ozonisasi pada pascapanen untuk menekan mikroba dan mengurangi residu pestisida, sehingga kualitas produk lebih terjaga. Selain itu, ozonisasi mampu memperpanjang umur simpan komoditas hortikultura dari sekitar satu hari menjadi hingga lima hari, sehingga mengurangi potensi kerugian petani.

Di sisi hulu, petani juga memanfaatkan automatic weather station (AWS) untuk memantau kondisi cuaca secara real time, seperti suhu, curah hujan, dan kelembapan. Data ini membantu petani menentukan waktu tanam, pemupukan, hingga panen secara lebih tepat, sehingga produktivitas meningkat dan risiko gagal panen dapat ditekan.

Petani hortikultura di desa Tugu Mukti, Muhammad Taufik, mengaku merasakan manfaat langsung dari inovasi tersebut. “Dengan ozonisasi, residu pestisida dapat ditekan dan umur simpan produk bisa lebih panjang. AWS juga membantu kami membaca cuaca dengan lebih akurat,” ungkapnya.

Di akhir kegiatan, Dr Alim menegaskan keberhasilan program ini bergantung pada kolaborasi berkelanjutan. “Ini adalah kolaborasi pentahelix antara akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Model ini akan terus kami kembangkan di berbagai daerah,” tuturnya. (Fj)