Ahli Genetika Ekologi IPB University: Mirip Manusia, Simpanse Juga Bisa “Perang Saudara”
Konflik sosial yang selama ini identik dengan manusia ternyata juga terjadi di dunia satwa. Di Taman Nasional Kibale, Uganda, “perang saudara” antarkelompok simpanse menunjukkan bagaimana dinamika sosial dapat berujung pada penurunan populasi secara drastis.
Ahli Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor menyebutkan, simpanse dikenal sebagai satwa yang paling dekat dengan manusia, baik dari segi genetik maupun perilaku.
“Penelitian menunjukkan manusia berbagi sekitar 98–99% DNA dengan simpanse, lebih dekat secara genetis dibanding gorila. Seperti manusia, simpanse juga memiliki perilaku sosial kompleks seperti empati, kerja sama, hingga konflik terorganisir yang menyerupai perang,” tuturnya.
Konflik antarkelompok simpanse di Kibale menjadi salah satu contoh paling dramatis. Prof Ronny menuturkan, penelitian The University of Texas di jurnal Science mencatat awal mula konflik.
Konflik dipicu oleh pecahnya komunitas besar Ngogo—yang sebelumnya berjumlah sekitar 200 individu—menjadi dua faksi yang bermusuhan, yakni kelompok Barat dan Tengah. Perebutan wilayah dan sumber daya, serta hilangnya pejantan tua sebagai penyeimbang sosial, memperparah situasi.
“Peneliti menyebut bentuk serangan kelompok Barat secara terorganisasi ini sebagai collective raids. Simpanse bekerja sama, menyusun strategi, hingga melakukan pembunuhan sistematis terhadap kelompok lain,” ujarnya.
Akibatnya, banyak individu dari kelompok Tengah—termasuk betina dan anak—menjadi korban. “Collective raids” tersebut menyebabkan penurunan populasi secara signifikan dan menghancurkan struktur sosial kelompok yang tersisa.
“Kehilangan anggota kelompok mengakibatkan runtuhnya struktur sosial, melemahkan kerja sama, dan mengurangi kemampuan kelompok untuk bertahan hidup. Dampaknya, populasi yang berkurang drastis mempersempit variasi genetik, meningkatkan kerentanan terhadap penyakit, dan mengurangi daya adaptasi terhadap perubahan lingkungan,” jelas Prof Ronny.
Menurut dia, fenomena ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap simpanse tidak hanya berasal dari manusia seperti deforestasi dan perburuan, tetapi juga dari dinamika internal kelompok mereka sendiri. Melindungi simpanse tidak hanya soal menjaga hutan, tetapi juga memahami dinamika sosialnya.
Untuk mengatasi dampak tersebut, Prof Ronny menjabarkan strategi konservasi yang lebih komprehensif. Langkah yang dapat dilakukan meliputi pemantauan sosial jangka panjang, perlindungan habitat dan sumber daya, serta intervensi ekologis dengan menjaga keberadaan individu dewasa—terutama pejantan tua—sebagai penyeimbang sosial.
“Perlindungan habitat dan sumber daya harus dijaga, termasuk memastikan ketersediaan makanan dan ruang yang cukup agar pertempuran di wilayah tersebut tidak semakin meningkat,” tuturnya.
Selain itu, kolaborasi global dan lokal menjadi penting, termasuk integrasi kebijakan internasional serta edukasi masyarakat sekitar untuk mendukung perlindungan simpanse sebagai bagian dari warisan dunia.
“Perang antarsimpanse di Kibale bukan hanya fenomena biologis, tetapi juga mencerminkan kompleksitas sosial yang mirip dengan manusia. Agar populasi tidak menurun secara drastis, konservasi perlu menggabungkan pemantauan sosial, perlindungan habitat, dan intervensi ekologis untuk menjaga keseimbangan komunitas,” pungkas Prof Ronny. (*/dh/Rz)
