DPMA IPB University Gelar FGD Sekolah Keluarga Berkualitas Bahas Ilmu Keluarga dalam Pencegahan Stunting

DPMA IPB University Gelar FGD Sekolah Keluarga Berkualitas Bahas Ilmu Keluarga dalam Pencegahan Stunting

DPMA IPB University Gelar FGD Sekolah Keluarga Berkualitas Bahas Ilmu Keluarga dalam Pencegahan Stunting
Berita

Direktur Pengembangan Masyarakat Agromaritim (DPMA) IPB University adakan Focus Group Discussion (FGD) Sekolah Keluarga Berkualitas (SKB) 2024. Kegiatan tersebut merupakan langkah awal DPMA guna memberikan edukasi kepada kepala desa dan kader kesehatan masyarakat di Lingkar Kampus IPB. Kegiatan ini berlangsung pada Senin, 6/5, di Agribusiness and Technology Park (ATP), Bogor.

Acara dibuka dengan sambutan Direktur DPMA IPB University, Dr Handian Purwawangsa, yang menjelaskan bahwa SKB 2024 menjadi salah satu komitmen IPB University dan DPMA untuk memberikan pelatihan, serta transfer informasi dan teknologi.

“Terutama dalam program stunting, karena pemahaman terkait penyebab stunting yang tidak hanya berhubungan dengan makanan saja, tetapi juga seluruh aspek kehidupan, seperti tempat tinggal, pola asuh dan lainnya,” ujarnya.

Lanjut Dr Handian, FGD kali ini perlu dilakukan untuk merangkum masukan dari berbagai pihak. SKB juga dapat disinergikan dengan kegiatan bedah kebun, jadi sangat mungkin untuk desa atau kelurahan yang memiliki tanah kosong untuk diajukan bantuan program pendampingan kepada DPMA.

Dr Handian menyampaikan pula rasa optimisnya terhadap dampak positif yang dihasilkan dari kegiatan SKB, serta ucapan terima kasih atas kedatangan kepala desa dan kader kesehatan dari lingkar kampus atas kedatangannya dalam FGD ini.

Penyampaian materi “Ilmu Keluarga dalam Pencegahan Stunting”, disampaikan langsung oleh Dr Tin Herawati yang merupakan ahli dan praktisi ilmu keluarga.
“Fenomena tingginya angka stunting di Kabupaten Bogor, menjadi salah satu landasan dalam pelaksanaan SKB. Berbagai macam strategi pencegahan stunting masih harus terus dilakukan secara tentatif dan holistik, mengingat stunting bukan hanya berakar pada masalah kurangnya asupan gizi pada anak,” ungkap Dr Tin.

“Keluarga menjadi unit penting dalam pencegahan stunting. Pemahaman secara holistik mengenai masalah stunting perlu disosialisasikan kepada keluarga, guna meningkatkan kehidupan keluarga dan menciptakan lingkungan holistik yang mendukung tumbuh kembang anak,” tutur Dosen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University ini.

Lanjut Dr Tin, Pemahaman mengenai persiapan kesehatan ibu sebelum hamil dan melahirkan juga menjadi sorotan utama dalam rangka pencegahan anak dengan stunting bawaan lahir.

“Stunting bawaan, menjadi salah satu tantangan karena pencegahannya sangat sulit dilakukan. Rata-rata anak ini dilahirkan dari ibu yang memiliki penyakit (darah tinggi dan anemia), kurang gizi dan sering minum obat,” ungkapnya. (*/Lp)