Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Prof Dwi Guntoro Ungkap Strategi Pengelolaan Gulma Resisten Herbisida

Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Prof Dwi Guntoro Ungkap Strategi Pengelolaan Gulma Resisten Herbisida

Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Prof Dwi Guntoro Ungkap Strategi Pengelolaan Gulma Resisten Herbisida
Riset

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Dwi Guntoro mengungkapkan strategi pengelolaan gulma resisten herbisida untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Gulma resisten herbisida merupakan ancaman bagi penyediaan pangan nasional.

Prof Dwi menjelaskan, gulma resisten dapat menurunkan produksi padi mencapai 20 hingga 50 persen. Apabila penurunan produksi akibat gulma resisten mencapai 30 persen dan potensi produktivitas padi 10 ton/ha, maka potensi kehilangan hasil produksi dapat mencapai 3 ton per hektare.

“Pengelolaan gulma pada masa mendatang membutuhkan strategi yang tepat berbasis pada lima pilar yakni pengelolaan presisi, ramah lingkungan, biaya rendah, berbasis sumber daya lokal, dan lintas disiplin,” ucapnya dalam Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University melalui Zoom (25/4).

Ia melanjutkan, dalam identifikasi gulma resisten sangat penting untuk mengetahui spesies gulma apa yang sudah resisten terhadap herbisida. Selain itu, pemetaan lokasi juga penting dilakukan untuk memberikan gambaran lokasi-lokasi gulma yang sudah mulai resisten. Menurutnya, pemetaan ini sangat berguna sebagai dasar dalam pengelolaan gulma berkelanjutan.

“Strategi pencegahan dapat dilakukan antara lain pendidikan dan pelatihan petani, pengelolaan seedbank, penggunaan varietas dengan daya kompetisi kuat, pencegahan perkembangan dan penyebaran propagul gulma,” tuturnya.

Lebih lanjut, Prof Dwi mengatakan strategi pengendalian dapat dilakukan melalui rotasi bahan aktif, penggunaan bahan aktif baru termasuk penggunaan bioherbisida, penggunaan herbisida berbahan aktif campuran, dan pengembangan teknik pengendalian yang inovatif, seperti penggunaan teknologi plasma.

Salah satu alternatif untuk penggunaan bahan aktif baru dalam pengembangan bioherbisida adalah dengan memanfaatkan zat alelopaty tumbuhan.

“Beberapa bioherbisida asal biomassa gulma sangat potensial untuk dikembangkan, seperti alfa-cyperon dari umbi teki (Cyperus rotundus) dan wogonin dari ekstrak gulma Tetracera indica. Riset pengembangan bioherbisida perlu diteruskan untuk meningkatkan efektivitasnya,” ucapnya.

Selain itu, Prof Dwi mengungkapkan pengembangan inovasi teknologi untuk pengendalian gulma terus dilakukan. Salah satu alternatifnya adalah penggunaan teknologi plasma.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi teknologi plasma pada tegangan 140 kV dengan durasi 80 detik pada fase pre-emergence dan post-emergence dapat mengendalikan gulma uji,” ungkapnya. (dr/Rz)