Peternak Ingin SPR IPB University Ada di Lamongan
Semangat para peternak rakyat Lamongan terlihat luar biasa. Hal ini terekspresikan dalam Rapat Kerja Perdana Paguyuban Peternak Lamongan (Pagupela) di Pacet Mojokerto (23-24/11). Pertemuan yang digelar untuk pertama kalinya dimotori Mohammad Nuryanto, penduduk Sukorame Kabupaten Lamongan. Acara ini dihadiri unsur pemerintah kabupaten, unsur perguruan tinggi (IPB University), unsur Komunitas Sosiobisnis asal Kediri dan peternak, dengan total yang hadir sekitar 60 orang.
Peternak Lamongan ingin belajar dari kegiatan Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) IPB University yang telah berjalan sejak tahun 2014. Mereka melihat dan mendapatkan kabar bahwa para peternak di Bojonegoro yang mengikuti pembelajaran partisipatif melalui SPR mengalami banyak perubahan mendasar dalam hal pola pikir dan wawasan bisnis kolektifnya. Mereka berkeyakinan bahwa peternak Lamongan bisa seperti itu jika diberi pemahaman yang baik melalui SPR.
Pagulepa yang telah mengikuti pelatihan peternakan dari Dinas Peternakan setempat memiliki keinginan untuk menjadi cikal bakal berdirinya SPR di Kabupaten Lamongan. Mereka membentuk paguyuban tersebut sebagai awal dari keinginan untuk bisa berubah seperti peternak tetangganya di Bojonegoro. Peternak yakin bahwa hanya persatuan, kekompakan dan militansi peternak rakyat yang membuat mereka bisa kuat. Kepala Bidang Peternakan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lamongan juga sependapat tentang perlunya didirikannya SPR di Lamongan.
Dalam acara ini, hadir Prof Muladno, Guru Besar IPB University sekaligus pencetus SPR, memberikan gambaran tentang SPR. Prof Muladno meyakinkan peternak bahwa tentang keuntungan mengikuti pembelajaran partisipatif di SPR. Hingga saat ini, telah ada 39 SPR yang tersebar di 22 Kabupaten di 11 Provinsi.
Menurut anggota komunitas sosiobisnis asal Kediri yang juga pengurus pusat Perkumpulan Solidaritas Alumni SPR Indonesia, SPR terbukti telah mengubah pola pikir peternak dalam sikap dan tindakannya. Peternak sangat mudah diajak berpikir maju dan bersemangat untuk berubah ke arah yang lebih profesional.
Drh Suparto sebagai juara nasional program Sarjana Membangun Desa (SMD) dan drh Wahyu, praktisi kesehatan hewan juga turut berbagi pengalaman. Keduanya berharap SPR dapat segera diterapkan di Lamongan.
“Kami sarankan agar para peternak dapat mengkomunikasikan usulan ini dengan anggota DPRD Lamongan untuk memperoleh dukungan politis. Bagaimanapun juga SPR ini kebutuhan mendasar peternak yang ingin maju dan terus berkembang,” ujar Drh Suparto. (Muld/Dng)
