Ekonomi Syariah Berperan Penting Dukung Pertanian Berkelanjutan dan Implementasi SDGs

Ekonomi Syariah Berperan Penting Dukung Pertanian Berkelanjutan dan Implementasi SDGs

ekonomi-syariah-berperan-penting-dukung-pertanian-berkelanjutan-dan-implementasi-sdgs-news
Berita

Pertanian memiliki peran penting dalam pengembangan ekonomi Indonesia. Pertanian sebagai penghasil sumber pangan dan gizi untuk masyarakat  menyerap 31,86 persen dari total tenaga kerja di Indonesia di awal tahun 2017. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor ini juga berkontribusi terhadap 13 persen Gross Domestic Product (GDP) Indonesia 2017.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Sutan Emir, SP, MBA, Direktur Pendidikan dan Riset Keuangan Syariah Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang hadir dalam International Seminar and Conference on Islamic Economics (ISCiE) 2019, Selasa (6/8) di Auditorium Andi Hakim Nasution, Kampus Dramaga. Kegiatan ini terselenggara atas kolaborasi dua unit kerja di IPB University yaitu Departemen Ilmu Ekonomi Syariah dan Center for Islamic Business and Economic Studies (CI-BEST).

“Indonesia memiliki komitmen kuat untuk bisa mewujudkan 17 target  Sustainable Development Goals (SDGs),  dengan mengintegrasikannya ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan sejalan dengan enam agenda prioritas nawacita Presiden Jokowi,” kata Dr Sutan.

Bertemakan Islamic Economics in Promoting Agricultural Development and Sustainable Development Goals (SDGs), Dr Sutan menyebutkan bahwa Ekonomi Islam mempunyai karakteristik yang bisa mendukung tujuan SDGs. Ekonomi Islam memiliki sejumlah instrumen keuangan yang bersifat sosial, sebut saja zakat, infak, sedekah dan wakaf. Sementara untuk pertanian, akad pembiayaan Islam seperti mudharabah, musyarakah, muzaraah, musaqah, bai’ salam, dan murabahah adalah beberapa kontrak yang bisa memberikan solusi bagi petani saat ini.

“Total lahan wakaf di Indonesia mencapai 4,4 milyar meter persegi yang tersebar lebih dari 400 ribu wilayah. Akan tetapi total lahan yang bersertifikat masih 66 persen dari potensinya. Masih perlu  dioptimalkan. Wakaf produktif yang digunakan untuk pertanian, dapat memberdayakan ekonomi lokal dan mendukung lingkungan,” ujar Dr Sutan.

Dr Sutan mencontohkan, Yayasan Al Azhar Indonesia telah menanam pohon jabon sebagai wakaf, dan hasil darinya mendapatkan keuntungan sebesar 750 juta rupiah per enam tahun.

Sementara Asst Dr. Muhamad Abduh, Programme Leader Accounting and Finance, School of Business and Economics, Universiti Brunei Darussalam menyatakan, instrumen lain yang Islam miliki untuk mewujudkan tujuan SGDs dalam mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan nutrisi yang lebih baik dan mendukung pertanian berkelanjutan adalah Ihya al-Mawat.

Ihya al-Mawat adalah menghidupkan kembali tanah mati atau meletakkan sebidang tanah yang tidak digunakan untuk digunakan oleh seorang individu dan memperoleh hak milik atasnya. Secara umum, tanah mawat mengacu pada tanah yang diabaikan dan tidak ditanami selama minimal tiga tahun.

“Yang perlu digarisbawahi adalah ini untuk kepentingan masyarakat, bukan kepentingan individu. Jadi, tanah mawat diberikan kepada mereka yang dapat mengubah tanah mati menjadi faktor produktif penting di masyarakat,” ujar Muhamad Abduh.

Dr. Laily Dwi Arsyianti, Sekretaris Departemen Ekonomi Syariah IPB University juga menegaskan dalam sambutannya, bahwa ekonomi Islam memiliki potensi untuk memainkan peran transformatif dalam mendukung implementasi agenda SDGs.

“Secara konseptual, tujuan dan target SDGs sejalan dengan mandat ekonomi Islam yang berasal dari tujuan syariah, yaitu maqashid al-syariah. Pembangunan pertanian sangat terkait dengan ekonomi Islam karena kekuatannya terletak pada sektor ekonomi riil, dan peran vitalnya dalam mencapai hampir semua komponen maqashid al-syariah,” kata Dr. Laily.

Rektor IPB University, Dr. Arif Satria, yang juga memberikan sambutan pada seminar tersebut menjelaskan bahwa di era saat ini, kita dihadapkan pada kondisi yang penuh dengan volatility, uncertainty, complexity and ambiguity (VUCA).

“Saya kira ini adalah tantangan bagi kita semua, terutama bagi ekonomi syariah dengan hadirnya teknologi-teknologi baru, setiap aktivitas ekonomi kini berjalan dengan financial technology (fintech),” kata Rektor IPB.

Lantas Dr Arif menyatakan bahwa komunikasi, kolaborasi, kemampuan berpikir kritis dan kreativitas merupakan skill yang sangat penting untuk dimiliki. Karena di era ini adalah masa untuk melakukan sinergi, meningkatkan kolaborasi untuk bisa hadapi perubahan yang terjadi.

Turut hadir menjadi pembicara dalam acara ini, Prof. Yusman Syaukat, Dosen IPB University, Assoc. Prof Dr Salina Kassim, International Islamic University Malaysia, M Rifki Ismal, PhD, Asisten Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia (BI), Umar Munshi, co-founder Ethis Group, serta Greget Kalla Buana, Islamic Finance Specialist United Nations Development Program (UNDP). (RZ/ris)