Mahasiswa IPB University Hadirkan INSIGHT Project, Ruang Eksplorasi Emosi bagi Remaja Boarding School
Kemampuan mengelola emosi bukanlah bakat bawaan, melainkan keterampilan yang dapat dilatih. Namun, di tengah padatnya aktivitas akademik dan kehidupan asrama, ruang untuk melatih keterampilan ini kerap tidak tersedia.
Celah inilah yang coba dijawab oleh mahasiswa IPB University lewat INSIGHT Project (Identity and Self-Regulation Growth for Healthy Teens), program intervensi regulasi emosi berbasis experiential learning yang dirancang untuk siswa boarding school kelas VIII Sekolah Cendekia BAZNAS (SCB), Kabupaten Bogor.
Program yang berlangsung selama April hingga Mei 2026 ini dikembangkan oleh Azzama Munjiza, mahasiswa Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ilmu Sosial dan Ekologi Manusia (FISEMA) IPB University, bersama tim di bawah bimbingan Prof Megawati Simanjuntak dan Fuad Habibi Siregar, SKPm, MHan.
“Di balik seragam rapi dan rutinitas asrama yang terstruktur, ada dinamika emosional yang kompleks yang sering luput dari perhatian. Bagaimana mereka ini mengelola perasaannya ketika rindu rumah, menghadapi konflik dengan teman sekamar dengan budaya berbeda, dan menjaga stabilitas di tengah tekanan akademik yang tinggi? Karena itulah program ini hadir,” ungkap Azzama.
Ia menjelaskan bahwa setiap pertemuan dari total delapan sesi dirancang sebagai ruang eksplorasi aktif dengan instrumen utama berupa Workbook Regulasi Emosi dan Identitas Diri. Buku kerja tersebut memandu siswa mengenali emosi, memahami pemicunya, serta melatih strategi regulasi emosi secara mandiri.
“Seluruh materi juga diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam seperti muhasabah, husnuzan, sabar, dan tawakal yang selaras dengan karakter SCB sebagai sekolah berbasis keislaman,” tuturnya.
Azzama menambahkan, pendekatan berbasis pengalaman menjadi bagian penting dalam program ini karena siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga diajak memahami kondisi dirinya sendiri.
“Ketika materi langsung menyentuh pengalaman nyata, siswa memiliki alasan yang jauh lebih kuat untuk terlibat. Dari yang awalnya mengikuti karena harus, mereka mulai menunjukkan keterlibatan yang lebih sadar dan personal,” ujar Azzama.
Perubahan tersebut terlihat sepanjang pelaksanaan program. Pada awalnya, respons siswa cenderung minimalis dan diskusi masih terasa berat. Namun, seiring berjalannya program, siswa yang semula pasif mulai aktif terlibat. Workbook yang sebelumnya hanya diisi singkat, berkembang menjadi lebih mendalam dan reflektif.
Salah satu peserta, Regina, mengungkapkan bahwa INSIGHT Project membantunya memahami cara mengelola emosi diri sendiri. Bagi Azzama dan tim, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa regulasi emosi merupakan kebutuhan yang nyata bagi remaja, tetapi belum selalu diajarkan secara eksplisit.
“Kesehatan mental remaja di lingkungan boarding school masih kurang mendapat perhatian serius. Padahal kemampuan regulasi emosi yang baik bukan hanya berdampak pada kesejahteraan psikologis. Ia juga menjadi fondasi bagi prestasi akademik, kualitas hubungan sosial, dan pembentukan identitas diri yang sehat,” sebut Azzama.
Baginya, INSIGHT Project menunjukkan bahwa intervensi yang mempertimbangkan konteks kehidupan nyata siswa, termasuk nilai-nilai yang mereka pegang, dapat menjadi pendekatan yang relevan dalam mendukung kesehatan mental remaja. Ia berharap program ini dapat diadopsi sekolah berasrama lain sebagai bagian dari program orientasi siswa. (*/Rz)
