Himiteka IPB Adakan Pelatihan Hidrobiologi Menggunakan CPCE
Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan (Himiteka), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (FPIK IPB) menggelar Pelatihan Hidrobiologi Laut bertajuk ‘Teknik Monitoring Terumbu Karang dan Identifikasi Karang Menggunakan Coral Point Count with Excel Extension (CPCE), Minggu (12/5). Pelatihan ini dihadiri oleh mahasiswa dan masyarakat umum.
Kegiatan monitoring terumbu karang merupakan aktivitas penting dalam memantau perkembangan dan perubahan ekosistem terumbu karang. Monitoring penting dilakukan untuk mengambil berbagai keputusan yang diperlukan.
Hadir sebagai pembicara utama yaitu Tri Aryono Hadi dari Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Berbagai teknik dalam monitoring terumbu karang dipaparkan olehnya. Diantaranya ialah monitoring dengan teknik manta taw, line intercept transect dan juga underwater photo transect. Ia menjelaskan bahwa tiap teknik dan metode memiliki kekurangan dan kelebihan tergantung pada tujuan yang ingin dicapai.
"Pada teknik manta taw itu dibutuhkan pelaku yang betul-betul profesional karena jika tidak dikhawatirkan data yang diperoleh akan sangat subyektif, karena pemonitor (penyelam) ditarik menggunakan kapal dengan jarak tertentu dan pemonitor berusaha untuk mendata secara umum bagaimana keadaan tutupan terumbu karang yang dilihatnya secara cepat," ujar Tri.
Tri menambahkan bahwa teknik yang lebih akurat yang dapat digunakan adalah underwater photo transect. Dengan menentukan garis pengamatan menggunakan line transek pemonitor melakukan foto pada obyek karang dibantu dengan frame sebagai batasan area yang akan difoto. Frame diletakkan di sekitar garis transek lalu dipindahkan ke obyek berikutnya untuk difoto dengan jarak yang konsisten.
"Metode ini (metode foto transek) menggunakan kamera dan frame. Metode ini dapat dijadikan bukti jika ingin mengetahui perubahan yang terjadi pada ekosistem terumbu karang," tuturnya.
Dari hasil monitoring tersebut data yang diperoleh lalu diolah menggunakan aplikasi CPCE. Software CPCE dikembangkan oleh Nova Southeastern University US. Merupakan software free yang dapat digunakan untuk menganalisis foto untuk memperoleh data persentase tutupan karang hidup, kategori apendik lainnya, dan juga untuk menganalisis sampai tingkat spesies.
"Karena CPCE sendiri untuk kode filenya bisa di-update sampai ke level spesies, jadi kita bisa memberi nama spesies di dalam analisis CPCE,” ungkap Tri.
Peneliti Oseanografi ini menjelaskan bahwa prinsip CPCE menggunakan random poin. "Ketika kita melihat frame berukuran 44 x 58 centimeter lalu kita analisis persentase tutupan karang hidupnya berdasarkan random poin. Jadi nanti ada titik-titik acak tersebar di dalam area frame itu. Kalau titik acak berada di karang maka kita tulis karang,” jelasnya.
Ia menambahkan, "Semakin banyak karang hidup dalam frame itu maka titik acak akan berada pada karang hidup tersebut. Jadi software CPCE ini sudah periliable untuk menganalisa foto transek,” paparnya. (IRM/ris)
