INSPIRE 2019: Persiapkan Dunia Pasca Kampus Sejak Dini

INSPIRE 2019: Persiapkan Dunia Pasca Kampus Sejak Dini

inspire-2019-persiapkan-dunia-pasca-kampus-sejak-dini-news
Berita

Kehidupan pasca kampus adalah kehidupan yang akan dijalani oleh seorang mahasiswa setelah menyelesaikan studinya. Pasca kampus dimulai ketika seseorang telah mendapatkan Surat Keterangan Lulus (SKL) kuliah dan telah diwisuda dari perguruan tinggi tempatnya menimba ilmu.

Namun banyak mahasiswa yang masih bingung dan merasa belum siap untuk menghadapi dunia pasca kampus. Melihat kondisi itu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekologi Manusia (Fema) Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerja sama dengan Himpunan Profesi Mahasiswa Ilmu Gizi (HIMAGIZI), Himpunan Profesi Mahasiswa Ilmu Keluarga dan Konsumen (HIMAIKO) IPB menggelar Inspire 2019. Inspire 2019 mengusung tema Infinite Potential for The Better Future yang bertujuan agar mahasiswa dapat menemukan potensi dirinya untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Di kesempatan kali ini, tiga pembicara yang masing-masing berprofesi sebagai dietisien atau ahli gizi, Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Supervisor Human Resource dari media televisi ini sepakat bahwa penting sekali bagi mahasiswa untuk mengetahui passion dan minat ke depannya. Hal ini untuk lebih memudahkan lulusan untuk memilih pekerjaan yang sesuai. Dalam kehidupan pasca kampus, passion memegang peran penting yang menentukan arah karir ke depan, apakah menjadi seorang pekerja kantoran, pekerja industri media kreatif atau menjadi seorang entrepreneur. Semua itu yang mendasari adalah passion.

Menurut Mabella Denantrini, Supervisor Human Resource NET TV, selain passion ada hal lain yang tidak kalah pentingnya dalam dunia pasca kampus nanti. Dalam dunia pasca kampus tidak cukup hanya bekerja dengan passion saja tanpa mengetahui resiko dari pekerjaan yang dijalani. 

“Sebenarnya yang perusahaan butuhkan itu ada dua. Pertama, passion kamu. Kedua, tahu konsekuensi dari kerjaan yang kamu pilih. Mengetahui risiko dari suatu pekerjaan yang akan kita ambil itu penting untuk menyiapkan mental agar tidak mudah down ketika menemukan kesulitan nantinya. Mengetahui risiko pekerjaan seseorang  juga dapat membuat ia tampak lebih profesional dan berprestasi,” ujarnya. 

Selain itu, menurut pembicara pada sesi kedua yakni Deva Mahendra, aktor sekaligus entrepreneur, dalam dunia pasca kampus seseorang juga membutuhkan kemampuan kerjasama dan komunikasi yang bagus. Baik dalam pekerjaan sebagai pegawai maupun sebagai seorang entrepreneur, kemampuan ini mutlak diperlukan seseorang. 

“Di dunia entrepreneur kita bekerjasama dengan orang lain, berkolaborasi, mencari partner, bersinergi dengan yang lain. Kalo gak gitu, gak bisa jalan usaha kita, bangkrut,” ujar pria yang mendirikan usaha kedai kopi ini. 

Senada dengan Deva, Fatma Silviani yang berprofesi sebagai ahli gizi pun mengungkapkan hal yang sama. Menurutnya, di rumah sakit, tidak hanya ada satu profesi tapi banyak profesi yang ditemui. “Sebagai ahli gizi, tidak mungkin dapat bekerja sendiri  tetapi harus bekerja sama dengan dokter untuk kesembuhan pasien,” ujar Fatma yang bertugas di RS. PON Jakarta.

Namun sebelum memasuki dunia pasca kampus, ada hal yang bisa disiapkan dari sejak bangku kuliah. Hal itu adalah personal branding. Personal branding adalah hal-hal yang dibangun untuk menunjukkan karakter seseorang agar berbeda dengan yang lainnya. Di era digital seperti sekarang, personal branding umumnya dilakukan pada media sosial seperti Instagram dan Youtube. Untuk mendapatkan personal branding pun membutuhkan waktu yang tidak sedikit. 

Benakribo yang berprofesi sebagai konten kreator mengatakan bahwa personal branding itu bukan sesuatu yang instant. Dibangunnya butuh waktu yang lama. “Kadang orang-orang itu menonton video youtube karena personal branding dari si kreator bukan semata-mata karena kontennya saja,” ujar pria yang akrab disapa Bang Bena tersebut.(DPNO/Zul)