Mahasiswa IPB Berdayakan Desa Tertinggal dengan Satu Desa Satu Produk
Salah satu masalah pendidikan keaksaraan di Indonesia adalah banyaknya masyarakat buta huruf di usia remaja. Pada tahun 2016, dataKementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI menyatakan angka bebas buta aksara di tanah air mencapai 97,93 persen sehingga sekitar 2,07 persen atau 3,4 juta warga masih belum mengenal huruf dan mampu membaca. Hal ini masih menjadi realita miris bagi pendidikan Indonesia. Padahal pendidikan khususnya pendidikan keaksaraan adalah instrumen penting dalam rangka perbaikan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Pendidikan keaksaraan tidak hanya membelajarkan kemampuan membaca, menulis dan berhitung (calistung), tetapi juga pemanfaatan hasil belajar untuk kehidupan.
Menyikapi hal tersebut, mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) membuat sebuah program kreatif untuk meningkatkan angka bebas buta huruf masyarakat Indonesia melalui program Lembar Aksara, sebuah gerakan literasi keaksaraan fungsional untuk mewujudkan masyarakat produktif dan proaktif.
Lembar Aksara adalah komunitas yang memiliki semangat pengabdian yang berfokus kepada penyelesaian masalah pendidikan keaksaraaan di Indonesia. Tim mahasiswa IPB ini melakukan pemberdayaan berbasis sosial, budaya, dan kewirausahaan (socioculturepreneurship) untuk desa tertinggal dengan konsep satu desa satu produk.
Program Lembar Aksara ini digagas dan direalisasikan oleh lima orang mahasiswa IPB yaitu Deri Siswara, Alfia Shinta Nurul Aini, Zalfa Maulidia Ihsani, Moh Mulya Agniya, dan Vinka Marisa Putri. Mereka tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) di bidang Pengabdian Masyarakat dan dibimbing langsung oleh Salahuddin El Ayyubi, Lc. M.A.
Deri dan kawan-kawannya menggunakan metode REFLECT (Regenerated Frerian Literacy through Empowering Community Techniques), yaitu metode pemberdayaan masyarakat oleh tutor yang memperlihatkan adanya proses penyatuan antara kegiatan keaksaraan dan pemberdayaan masyarakat serta ditambah nilai-nilai budaya. Program ini ditujukan untuk masyarakat usia produktif seperti anak-anak, remaja hingga dewasa agar mereka mampu menjadi golongan masyarakat produktif.
“Lembar Aksara telah diaplikasikan di Kawasan Kampung Jambu Manis, Desa Sukaraksa, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Wilayah ini tingkat kepadatan penduduk cukup tinggi. Kampung ini memiliki banyak warga yang buta huruf, anak putus sekolah di tingkat dasar dan beberapa anak usia sekolah belum pernah sama sekali masuk sekolah formal. Banyak anak-anak yang turun ke jalan menjadi pengamen bahkan dipekerjakan untuk meminta-minta sumbangan,” ujar Deri.
Metode yang mereka gunakan ini memaksimalkan potensi melalui kolaborasi antara kondisi masyarakat dengan pendidikan keaksaraan. Selain melakukan edukasi aksara, mereka juga mengenalkan jiwa berwirausaha karena pendekatan ekonomi adalah inovasi paling tepat. Satu desa satu produk adalah program berbasis kewirausahaan dengan menciptakan produk untuk dipasarkan ke masyarakat yang di promosikan lewat media lembar aksara.(**/Zul)
