HOPE, Bank Sampah Dilengkapi Mesin Pengolah Sampah Ala Mahasiswa IPB

HOPE, Bank Sampah Dilengkapi Mesin Pengolah Sampah Ala Mahasiswa IPB

hope-bank-sampah-dilengkapi-mesin-pengolah-sampah-ala-mahasiswa-ipb-news
Berita

Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), Praditya Ariyadi, Ginanjar Adi Triono, Dewi Setyo Anggraeni, Fauzan Azhari Priambudi, dan Bachtiar Zulfikar dari Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, dan didampingi dosen pembimbing  Dr. Slamet Widodo, STP, M.Sc melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di bidang pengolahan sampah plastik untuk meningkatkan nilai tambah pada sampah plastik tersebut. Kegiatan ini dilaksanakan di Bank Sampah Melati, Kampung Babakan, RT 01/ RW 11, Kelurahan Bubulak, Bogor, Jawa Barat. Kegiatan ini termasuk ke dalam Program Kreativitas Mahasiswa di bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM M) tahun 2018.

Menurut Praditya, kurangnya kesadaran terhadap masalah yang ditimbulkan sampah plastik, serta kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap potensi sampah yang dapat diolah untuk dijadikan produk bernilai tambah, maka timnya  memiliki ide untuk mendirikan House of Plastic (HOPE) ini. Gunanya menambah wawasan masyarakat dalam memanfaatkan sampah plastik menjadi produk yang dapat dijual dan bernilai tambah dengan menggunakan mesin pengolah sampah. Menurutnya lagi, mesin pengolah sampah plastik ini dapat menghasilkan beberapa jenis produk dengan bahan dasar plastik, seperti wadah plastik yang dapat digunakan untuk media tanam, atau bak plastik.

“Untuk langkah awal PKM M ini, kami menjalankan kegiatan pengolahan sampah di bank sampah Melati di Kampung Babakan. Di sini kami memberikan pengetahuan tentang sampah plastik, mulai dari dampak yang ditimbulkan sampah plastik, hingga pengolahan sampah plastik menjadi produk yang memiliki nilai jual yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar,” ujar Praditya.

Praditya menjelaskan bahwa Bank Sampah Melati memiliki dua alat pengolah sampah plastik, yaitu terdiri dari alat pencacah dan alat pencetak cacahan sampah plastik. Kedua alat ini berbentuk persegi dengan dimensi 25 x 30 x 110 centimeter untuk alat pencacah, dan 25 x 30 x 130 centimeter untuk alat pencetak. Untuk alat pencetak, tersedia tiga jenis cetakan, yaitu berbentuk bak, penutup, dan tempat untuk media tanam untuk hidroponik rakit apung. “Sampah yang diperlukan untuk membuat satu bentuk cetakan tergantung pada jenis produk yang akan dibuat. Jika produk yang akan dibuat dalam ukuran  besar, maka jumlah sampah yang diperlukan juga akan lebih banyak,” ujar Praditya.

“Masyarakat di sekitar bank sampah ini sudah bisa mengoperasikan alat ini secara mandiri dan berkelanjutan, mereka bisa membuat produk yang bernilai ekonomi dengan alat ini, sehingga dengan adanya program ini dapat mengurangi pencemaran lingkungan akibat sampah plastik, dan juga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar,” ujar Praditya.

Menurutnya, pada saat pengenalan alat ini antusiasme warga sangat tinggi dan sangat tertarik  untuk mencobanya, dan menurut mereka program seperti ini baru pertama kali digelar di kampung tersebut. “Kami berharap semangat masyarakat untuk peduli dengan lingkungan sekitar lebih meningkat lagi, dan dengan adanya Bank Sampah Melati yang dilengkapi dengan alat pengolah sampah ini dapat menjadi contoh atau pionir bagi bank sampah di tempat lain,” tambah Praditya. (WW/ris)