Mahasiswa IPB Ciptakan Aplikasi Pemilu untuk Tunarungu

Mahasiswa IPB Ciptakan Aplikasi Pemilu untuk Tunarungu

mahasiswa-ipb-ciptakan-aplikasi-pemilu-untuk-tunarungu-news
Achievement

Tim mahasiswa dari Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil menjadi juara pertama dalam lomba Apps Challenge Sosialisasi Pilkada untuk Disabilitas Tunarungu yang digelar oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat dan Telkom University di Bandung (24/4). Tim yang terdiri dari Fajar Maulana, Wardiman Perdian dan Yasmin Salamah, dari Departemen Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA), ini mengembangkan aplikasi bernama SuaraKami. Atas prestasinya ini, ketiganya berhak membawa pulang hadiah senilai 15 juta rupiah.

“SuaraKami adalah aplikasi pendukung sosialisasi pemilu. Dalam aplikasi ini ada paparan tentang tahapan pemilu dengan visual yang menarik hingga mudah dipahami. Kami siapkan tiga fitur utama yakni sosialisasi Calon Gubernur (Cagub), fitur edukasi yang menjelaskan apa saja yang perlu disiapkan sebelum pemilu seperti dokumen, sistematika Tempat Pemungutan Suara (TPS), sistematika coblos dan lainnya. Fitur ketiga adalah fitur saat di TPS,” ujar Yasmin.

Fitur saat Anda di TPS ini terinspirasi dari temannya Yasmin yang menderita tunarunggu. Temannya itu kehilangan hak suara karena tidak mendengar panggilan mencoblos.

Nah, fitur ketiga ini menuntun pengguna step by step saat ada di TPS. Fitur ini dilengkapi notifikasi berupa getaran di smartphone. Fitur ini hanya bisa diakses di hari H. Saat pengguna sudah ada di TPS, ada barcode yang harus diakses untuk memvalidasi partisipasi pengguna aplikasi.

Menurut Fajar Maulana, aplikasi ini masih memerlukan pengembangan lebih lanjut. Ada usulan penambahan fitur video yang memuat bahasa isyarat, perubahan barcode (karena penambahan barcode di TPS ditakutkan melanggar undang-undang) menjadi GPS dan peningkatan keamanan data pengguna.

“Ke depan, kami akan kerjasama dengan Gerkatin (komunitas penyandang tuna rungu) untuk mengajari kami konten bahasa isyarat sehingga aplikasi ini ramah digunakan oleh kawan rungu,” ujarnya.

Teknologi ini mengkonversi bahasa lisan menjadi bahasa tulisan dan bahasa tulisan menjadi bahasa isyarat. Jadi penyandang disabilitas terbantu dan bisa menggunakan hak pilihnya nanti pada Pilkada serentak 27 Juni 2018. Saat ini ada lebih dari 9000 kawan rungu yang memiliki hak pilih pada Pilkada nanti. (***/zul)