Prof. Rizaldi Boer: Perubahan Iklim Akibatkan Bogor Semakin Panas
Mengapa Bogor semakin panas? Adakah solusi untuk mengatasi hal ini? Tanya Ibu Popi, pendengar setia RRI Bogor saat Dialog Interaktif dengan Kepala Pusat Pengelolaan Risiko dan Peluang Iklim di Asia Tenggara dan Pasifik IPB, Prof. Dr. Rizaldi Boer, Selasa (4/8) di Studio RRI Jln. Pangrango No. 34 Bogor.
“Bogor semakin panas karena kondisi suhu meningkat, yang diakibatkan dari populasi manusia dan kendaraan bermotor. Solusi yang bisa dilakukan diantaranya dengan menanam pepohonan dan mengurangi kontribusi terhadap emisi dengan menghemat listrik,” papar Prof. Rizaldi.
Ibu Yani dari Ciawi mengeluhkan kondisi masyarakat di Megamendung yang saat ini sudah mulai kesulitan air bersih, akibat musim kemarau. Padahal sepengetahuannya, daerah tersebut merupakan resapan air. Kepada Ibu Yani, Prof. Rizaldi mengatakan perubahan iklim bisa disumbang oleh kerusakan lingkungan. Dimana banyak sumber mata air yang hilang. “Saat air muncul di permukaan, namun tidak ada yang menyerap, maka air-air tersebut terbuang percuma ke sungai,” ujar Prof. Rizaldi.
Sementara terkait pertanian yang mengalami puso di kawasan Bogor Timur, seperti diurai Asep, warga Citeureup, Prof. Rizaldi mengatakan Jawa Barat termasuk daerah paling rawan jika dampak el-nino terjadi. Karenanya, Prof. Rizaldi menyarankan para petani untuk menyusun strategi sejak awal tanam.
“Petani harus menanam tepat waktu, jangan telat, sehingga tidak masuk pada kemarau. Dengan demikian, kelebihan air pada musim hujan bisa disimpan dan digunakan ketika kemarau tiba.”
Lebih lanjut dijelaskan, para petani sesungguhnya memiliki pengetahuan atau peramalan tersendiri untuk mengetahui kondisi iklim. Baik yang bisa dijelaskan secara ilmiah atau rasional hingga peramalan yang irasional.
Di sebuah daerah, di kawasan Bandung, terangnya, para petani lebih percaya pada ramalan seorang sesepuh setempat, dibanding Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG). Karena itu, Prof. Rizaldi mengimbau para penyuluh untuk menggunakan bahasa yang dimengerti masyarakat saat menyampaikan teknologinya. (nm)
