Kab. Luwu Utara Membutuhkan 1000 Lulusan Pertanian Untuk Germas Takwa

Kab. Luwu Utara Membutuhkan 1000 Lulusan Pertanian Untuk Germas Takwa

Berita

Bupati Kabupaten Luwu Utara, H. M. Luthfy A. Mutty, beserta jajarannya melakukan pertemuan dengan Rektor IPB, Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc, di Ruang Sidang Rektor di Gedung Andi Hakim Nasoetion Kampus IPB Darmaga. Mereka bermaksud mendiskusikan permasalahan penanganan perkebunan kakao rakyat yang sekarang sedang dihadapi oleh Kabupaten Luwu Utara Sulawrsi Selatan (22/8). Hal ini terkai dengan akan dicanangkan Kabupaten Luwu Utara sebagai penghasil kakao terbaik nasional dan menjadi pilot project percontohan perkakaoan di Kawasan Timur Indonesia (KTI) pada tahun 2010. Bahkan rencananya, tahun depan Kab.Luwu Utara akan dijadikan sebagai Pusat Penelitian dan Laboratorium (Puslitbang) Kakao di KTI.  Untuk menuju kearah sana, Kab. Luwu Utara sedang melakukan program Germas Takwa (Gerakan Rehabilitasi Massal Kakao Berkualitas). Hal ini dilakukan karena perkembangan perkebunan kakao di Luwu Utara yang relatif tidak berkembang selama 8 tahun bila dilihat dari luas areal. 

Untuk itu, M. Luthfy memaparkan kondisi dan permasalahan yang sedang dihadapinya dalam menangani tanaman kakao di wilayahnya. 

”Dengan luas areal kebun kakao ± 56.939,94 ha, kami mencanangkan untuk menjadi penghasil kakao terbaik nasional pada 2010. Kondisi saat ini kakao kami masih belum bisa menembus pasar Eropa, baru mampu menembus pasar Amerika. Indonesia merupakan negara penghasil kakao ketiga dunia namun impor komoditas kakao di Indonesia sendiri pada tahun 2006 mencapai 50 ribu ton per tahun,” ujarnya. 

Terjadi penurunan hasil produksi yang sangat tajam dari tahun 2003-2007, hal ini dikarenakan hanya 70% lahan yang masih produktif ditambah dengan permasalahan-permasalahan lainnya ykni, kelembagaan petani yang masih lemah, tingginya biaya antara, rendahnya inovasi teknologi petani, serangan hama dan banjir yang selalu melanda, lemahnya penanganan pasca panen, kurangnya peralatan pasca panen, kurang keberpihakannya perbankan, belum sinergi dalam peningkatan mutu kakao antara pemerintah daerah dengan eksportir/perusahaan, tambahnya. 

 “Menurut analisis kami sebanyak 7 kecamatan dengan luas areal 18.000 ha, 6000 ha terendam banjir dengan asumsi setiap hektar menghasilkan 20/tahun maka kerugian bisa mencapai 50 milyar per tahunnya,” tegas M. Luthfy. 

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan, Ir. Burhanudin Mustafa, MS. mengatakan jika dilihat dari luas areal kebun kakao dan permasalahan yang hadapi, Kab. Luwu Utara sangat membutuhkan, mungkin 1000 lulusan pertanian terutama IPB untuk menjadi penyuluh perkebunan terutama untuk tanaman kakao, mengingat kakao merupakan produk unggulan rakyat. 

Tim peneliti IPB menjawab berbagai permasalahan tersebut, diantaranya, Wakil Dekan Faperta Dr. Ir. Aris Munandar, Dr. Ir. Suwarto, M.Si (Staf pengajar Dept. Agronomi dan Hortikultura), Dr. Ade Wachjar, MS (Staf pengajar Dept. Agronomi dan Hortikultura), M.Sc, Dr.Ir. Darda Efendi, M.Si (Staf pengajar Dept. Agronomi dan Hortikultura), Dr. Ir. Suria D. Tarigan, M.Sc (Staf pengajar Dept. Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan), Dr.Ir. Syaiful Anwar, M.Sc (Staf pengajar Dept. Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan), Dr. Dahrulsyah (Staf pengajar Dept. Ilmu Teknologi Pangan), Dr. Nora Panjaitan (Staf pengajar Dept. Teknik Sipil dan Lingkungan), dengan moderator Wakil Rektor Bidang Riset dan Kerjasama, Dr. Ir. Anas Miftah Fauzi, M.Eng. Hadir juga Selretaris Eksekutif IPB, Dr. Ir. Aceng Hidayat, MT

Melalui Dr. Suwarto, pakar kakao, IPB menawarkan program yang dapat diterapkan di Kab. Luwu Utara yakni, berdasarkan asumsi dan permasalahan tersebut maka program yang dapat ditawarkan adalah penanganan permasalahan secara terpadu antara teknis, ekonomis, SDM/kelembagaan dan lingkungan. Pertama adalah program teknis yakni, peningkatan areal tanaman produktif dengan penetapan wilayah pengembangan tanaman kakao berdasarkan kesesuaian lahan dan agroklimat dan peremajaan tanaman. Kedua peningkatan produktivitas yakni dengan peningkatan adopsi dan penyedian klon unggul, perbaikan mutu tanaman melalui teknik sambung samping dengan klon unggul anjuran, perbaikan teknik penyiapan lahan untuk konservasi kesuburan lahan serta bebas dari sunber hama dan penyakit, perbaikan teknik penanaman dalam rangka optimasi produktivitas lahan, aplikasi pengendalian OPT khususnya PBK dan VSD, aplikasi input produksi sesuai anjuran guna menjaga kesehatan dan produksi tanaman, perbaikan teknik pemanenan. Ketiga peningkatan mutu produk yakni standarisasi mutu produk kakao rakyat yang diperdagangkan. Keempat program ekonomis yakni penguatan modal petani untuk memperoleh sarana produksi, memperpendek mata rantai pemasaran hasil melalui pengembangan industri pengolahan hasil. 

Kelima program peningkatan mutu SDM/kelembagaan yakni, peningktanan mutu SDM dan penyuluh perkebunan lapang, penguatan fungsi dan peran kelompok tani, forum komunikasi dan asosiasi petani kakao, peningkatan fungsi kelembagaan informasi. Keenam Program pengelolaan lingkungan yakni, sanitasi lingkungan, pembenahan jalan-jalan untuk memudahkan pengangkutan hasil keluar ataupun pengangkutan sarana produksi ke kebun, peningkatan penggunaan bahan organik melalui pemanfaatan potensi sumber daya yang ada di sekitar kebun, dan konservasi lahan terutama pada lahan-lahan berlereng. 

“IPB sebagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia khususnya di bidang pertanian selalu mencari solusi terbaik dari persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat khususnya di bidang pertanian. IPB akan kirim tim ke Luwu Utara untuk mengidentifikasi permasalahan lebih dalam lagi, karena petani kakao tidak bisa menunggu lebih lama lagi, kalau dimungkinkan akan ada diskusi lebih lanjut lagi dan saya akan laporkan hal ini ke Dirjen Dikti sebagai respon IPB yang cepat apalagi persoalan kakao ini akan menjadi tema penelitian yang menarik dan juga akan menjadi program pengabdian masyarakat oleh IPB” jelas Rektor IPB

Sedangkan mengenai kebutuhan akan lulusan pertanian untuk menjadi penyuluh pertanian, Rektor IPB menyarankan dikembangkannya program Diploma Khusus Kakao dengan mahasiswa dari daerah Sulawesi Selatan atau sekitarnya, hal ini dimungkinkan apabila ada kontrak IPB dengan Luwu Utara.(zul)