Sumbangsih Perguruan Tinggi Dalam Pengembangan Rempah Indonesia
Upaya meningkatkan produksi rempah dan mengembalikan posisi rempah Indonesia dalam perdagangan dunia perlu didukung oleh berbagai pihak yaitu pelaku usaha agribisnis dan agroindustri rempah, peneliti, instansi pemerintah, dan pengguna rempah. Sehubungan dengan itu maka Masyarakat Rempah Indonesia melalui Masyarakat Rempah – Institut Pertanian Bogor (MR-IPB) selenggarakan Semiloka Nasional bertajuk "Sumbangasih Perguruan Tinggi Dalam Pengembangan Rempah Indonesia" dengan lingkup kegiatan Presentasi oral dan diskusi dengan Pemerintah, Asosiasi Pengusaha, Petani dan Peneliti, Penyajian poster, Pameran di Auditorium Toyib Hadiwidjaja, Fakultas Pertanian IPB, Kampus Darmaga, Bogor (10/9).
Kegiatan ini dimaksudkan sebagai upaya untuk dapat berperan serta dalam pengembangan rempah Indonesia dan diharapkan dapat menginventarisasi dan mengelaborasi usaha perbaikan subsistem hulu hingga hilir maupun kelembagaan perempahan. Selain itu, semiloka ini juga bertujuan untuk saling mempertemukan pemangku kebijakan Dewan Rempah Indonesia (DRI) yang meliputi para pelaku usaha agribisnis dan agroindustri rempah, peneliti, pemerintah, pengguna rempah; mensosialisasikan sebagian penelitian rempah di Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian; dan menyusun arah pengembangan rempah Indonesia.
Menurut para pakar rempah IPB, rempah diartikan sebagai seluruh tanaman aromatik atau bagian tanaman yang digunakan dalam bentuk segar atau kering untuk memberikan rasa, aroma dan warna pada makanan dan minuman. Rempah juga digunakan sebagai bahan baku industri farmasi, jamu, kosmetik dan industri rokok.
Indonesia termasuk salah satu negara pemasok utama rempah dalam perdagangan dunia terutama untuk komoditi lada, pala, kayu manis, panili dan cengkeh. Terjadi penurunan kontribusi rempah Indonesia dalam perdagangan dunia saat ini. Kendala utama dalam produksi rempah antara lain (1) Tanaman yang sudah tua atau rusak; (2) Teknik budidaya yang diterapkan oleh petani belum baik sehingga menyebabkan rendahnya hasil maupun mutu hasil; (3) Keterbatasan lahan dan modal petani; (4) Terbatasnya akses informasi dan teknologi; (5) Kelembagaan petani dan asosiasi petani belum berperan optimal; (6) Harga produk berfluktuasi; (7) Iklim investasi kurang menarik; (8) Fasilitas perdagangan kurang mendukung, serta (9) Isu kesehatan pangan dan lingkungan yang berkaitan dengan penggunaan pupuk dan pestisida buatan.
Penyelenggara kegiatan yang dihadiri staf pengajar, mahasiswa, peneliti, asosiasi pengusaha, produsen bahan baku , dan pengguna rempah ini akan dipersiapkan menjadi salah satu divisi dari Pusat Studi Biofarmaka – LPPM IPB. Para peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia antara lain Medan , Bengkulu, Palu , Manado , Jakarta serta Bogor .
Hadir juga Kepala LPPM IPB, Prof. Dr . Ir. Rizal Syarief S., DESS yang memberikan sambutan sekaligus memperkenalkan Masyarakat Rempah (MR) IPB kepada audiens, Kepala Pusat Studi Biofarmaka LPPM IPB, Prof. Dr. Ir. Latifah K. Darusman, MS. Diundang untuk menjadi keynote speaker Ketua Dewan Rempah Indonesia , Adi Sasono dan Dirjen Perkebunan, Departemen Pertanian, Ir. Achmad Mangga Barani, MM. Diskusi panel pada hari itu menghadirkan pembicara dari berbagai kalangan diantaranya: Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), PT Martina Berto (Sari Ayu), Wakil Petani Vanilla Banten, Ketua Asosiasi Petani Cengkeh (APCI), Wakil dari Perguruan Tinggi (IPB dan UGM), Pusat Penelitian Biologi LIPI, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.
Menurut GAPMMI, Indonesia baru mengekspor 150 ribu ton/tahun sedangkan kebutuhan pasar dunia saat ini akan obat tradisional, jamur dan rempah-rempah baru, sekitar 600 ribu ton/tahun. "Setiap orang Indonesia rata-rata belanja hanya untuk obat-obatan Rp. 200.000/tahun, maka omzet penjualan obat tradisional Rp. 44 triliun, diperkirakan 10% dari obat-obatan tersebut merupakan Biofarmaka, sehingga nilai ekonomi sebesar Rp 4,5 triliun, maka ini adalah peluang terbuka membangun perekonomian lewat agroindustri," ujar Ir. Tri Wibowo Susilo, MBA, Wakil dari GAPMMI. (zul/nUr)
