Dr Rina Mardiana Pelopori Gerakan Sustainable Solution Champions, Aksi Zero Food Waste Dimulai

Dr Rina Mardiana Pelopori Gerakan Sustainable Solution Champions, Aksi Zero Food Waste Dimulai

dr-rina-mardiana-pelopori-gerakan-sustainable-solution-champions-aksi-zero-food-waste-dimulai
Riset dan Kepakaran

Di tengah maraknya persoalan sampah makanan di Indonesia, IPB University kembali menegaskan perannya sebagai kampus berkelanjutan melalui Aksi Zero Food Waste, bagian dari gerakan Sustainable Solution Champions (SSC). 

Program ini melibatkan mahasiswa untuk menumbuhkan kesadaran mengelola makanan secara bijak dan mengurangi sampah sisa konsumsi di lingkungan kampus.

Aksi Zero Food Waste dimulai di dua kantin percontohan, Kantin Sapta dan Kantin Plasma, berlangsung selama delapan hari, (20–27/10). Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya diajak untuk menghabiskan makanan, tetapi juga memahami cara pemanfaatan sampah organik, salah satunya lewat penggunaan maggot, seperti yang dilakukan di Taman Semangat, tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Kampus IPB Dramaga.

Menurut Dr Rina Mardiana, pelopor gerakan SSC, aksi ini lahir dari kegelisahannya melihat kebiasaan mahasiswa yang kerap menyisakan makanan.

“Kebiasaan mahasiswa makan di kantin itu masih menyisakan makanan, dan itu umum terjadi. Di luar negeri, orang membawa alat makan sendiri dan membersihkan sisa makanannya. Sementara di sini, konsumen sering merasa cukup makan dan meninggalkan sisanya begitu saja,” ujarnya.

Ia menegaskan, aksi ini bukan sekadar kampanye habiskan makanan, tetapi juga pembentukan kebiasaan dan kesadaran moral individual di kalangan mahasiswa.

“Kami ingin membangun gerakan yang berkelanjutan dan berdampak pada lingkungan. Karena IPB memiliki jumlah mahasiswa besar, perubahan perilaku harus dimulai dari mereka,” tambahnya.

Selama delapan hari pelaksanaan, volunteer mahasiswa melakukan edukasi kepada pengunjung dan pedagang kantin, sekaligus menimbang dan mencatat jumlah sisa makanan setiap sore. Pendekatan ini mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) 19-3964-1994 tentang perhitungan timbulan sampah.

Salah satu peserta aksi, Aufa, mahasiswa Fakultas Ekologi Manusia IPB University, menilai kegiatan ini membuka kesadaran baru terhadap pengelolaan sampah.

“Masalahnya bukan karena mahasiswa tidak tahu soal food waste, tapi karena kurangnya kesadaran. Mereka tahu, tapi belum sampai di hati. Aksi ini membuat kami sadar bahwa perubahan dimulai dari diri sendiri,” ujarnya.

Dr Rina menegaskan bahwa gerakan ini akan terus dikembangkan dalam berbagai bentuk aksi mahasiswa lain, seperti pengurangan sampah plastik dan penghematan energi.

“Minimal setelah lulus, mahasiswa bisa berkata: saya pernah melakukan aksi ini. Dari situ tumbuh kesadaran moral individual yang berkelanjutan,” tuturnya.

Selain aksi Zero Food Waste, rangkaian program Sustainable Solution Champion meliputi Planet X (kampanye bebas plastik), EcoWalk (aksi berjalan kaki sambil menikmati keindahan kampus), dan Biodiscovery (edukasi biodiversitas kampus). Dimulai dari 350 mahasiswa, Dr Rina yakin gerakan ini dapat menjadi contoh untuk menggalakkan perilaku berkelanjutan dan mengurangi emisi karbon di kampus.