Mentan Apresiasi Inovasi Varietas Padi IPB 3S
Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman menyampaikan capaian kinerja Kementerian Pertanian di hadapan peserta Seminar Nasional Ketahanan Pangan dan Launching Sustainable Development Goals (SDGs) Institut Pertanian Bogor (IPB), Kamis (24/1) di Kampus IPB Dramaga, Bogor.
“Pertama dalam sejarah Indonesia, tingkat inflasi pangan mengalami penurunan yang cukup signifikan dari 10,57 persen di tahun 2014 menjadi 1,26 persen di tahun 2017. Hal ini merupakan lompatan yang luar biasa, melampaui negara besar lain seperti Jerman dan China,” ungkap Mentan.
Dalam hal birokrasi dan administrasi, Kementerian Pertanian juga berhasil memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) di tahun 2016 dan 2017, yang pada 10 tahun sebelumnya statusnya disclaimer. Mentan mengatakan, selama ia menjabat, Kementerian Pertanian telah mencabut 291 Permentan yang menghambat iklim investasi dan ekspor produk pertanian dan agribisnis Indonesia. Dengan langkah ini, proses perijinan yang mulanya bisa berbulan-bulan, menjadi hanya tiga jam saja.
Selain itu, Mentan juga mengapresisasi IPB dalam upayanya memajukan pertanian Indonesia berkat berbagai inovasi dan teknologi yang dihasilkan IPB. Salah satunya adalah Padi IPB3S yang terbukti meningkatkan produktivitas hasil panen padi.
“Saya ingat saat Prof. Herry, Rektor IPB sebelumnya, datang ke Kementan menawarkan IPB-3S, saya setuju. Akhirnya kita coba di Karawang, dan ternyata hasilnya luar biasa. Jika padi biasa hanya bisa menghasilkan 6 ton/ha, ini IPB-3S bisa sampai 13,4 ton/ha. Bisa memasok beras Asia ini,” ujar Mentan.
Menteri Amran menegaskan bahwa tidak akan berubah pertanian tanpa teknologi dan tempat pengembangan keilmuan dan teknologi ada di kampus. Disamping itu, kemampuan petani Indonesia tidak kalah dengan petani di Jerman, Taiwan dan Jepang. “Kita hanya kalah di passion dan semangat juang,” ucapnya.
Menjawab hal itu, Rektor IPB, Dr. Arif Satria dalam sambutannya mengatakan, bahwa IPB telah meluncurkan konsep Agro-Maritim 4.0 sebagai bentuk komitmen IPB untuk mengantarkan pemanfaatan teknologi khususnya di sektor pertanian. Karena Rektor IPB menyadari ke depannya bidang pertanian sudah mulai mengarah ke teknologi 4.0.
“Di era ini, bukan jamannya lagi berkompetisi, namun kita harus berkolaborasi. Sehingga kerjasama antar universitas dan antar lembaga sangat diperlukan,” ujar Rektor.
Dalam kesempatan ini Dr. Arif Satria juga menyampaikan bahwa saat ini IPB sudah menjalin berbagai kerjasama, salah satunya dengan Wageningen University untuk mengembangkan Smart Farming di IPB. Dan diharapkan Kementan mendukung program ini. “Ya, saya siap mendukung dan target bulan empat ini Insya Allah harus sudah ada,” jawab Mentan. (Rizky/Zul)
