IPB Gelar Kuliah Umum Dr. Roger A. Sedjo, Peraih Nobel Perdamaian di Bidang Perubahan Iklim
Mengurangi kenaikan Green House Gasses (GHG) dengan menyetop deforestasi akan lebih murah. Dalam hal ini, Indonesia dengan hutan tropisnya yang masih banyak mempunyai peran yang sangat penting.
Hutan tropis memainkan 3 peran yang sangat penting, pertama memberikan jasa lingkungan (Water management, air purification, erosion control, wildlife habitat, endangered species habitat), yang bila dinilai dengan uang akan setara dengan $16-54 trilyun (Costanza, 1997), kedua sumber material obat-obatan; ketiga menyimpan carbon, yang mempunyai nilai yang sangat tinggi, kurang lebih $12 trilyun.
Data ini disampaikan oleh Dr. Roger A. Sedjo, Doktor kebangsaan Amerika peraih Nobel di bidang Lingkungan saat memberikan kuliah umum tentang "Environmental Protection and Energy" dengan judul Avoided Deforestation: How Costly? How Powerful a Tool? yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH)-LPPM, IPB (12/8).
"Namun potensi itu terancam oleh deforestasi, yang menyumbang peningkatan emisi GHG yang sangat besar. Deforestasi hutan tropis adalah 10 juta ha/tahun, dan Indonesia bersama-sama Brazil berkontribusi kurang lebih separuh dari total deforestasi hutan tropis di dunia," ujarnya.
Dalam uraiannya, sebuah studi menunjukkan nilai rata-rata pembukaan lahan baru adalah 300 dolar per hektare (Pearce 1996). Andaikan pemerintah bersedia membayar 500 dolar per hektare guna mencegah penebangan hutan, maka nilai yang harus dibayar adalah satu triliun dolar AS untuk seluruh hutan tropis di dunia. Sedangkan keuntungan dari penyerapan karbon dari hutan-hutan tersebut, bahkan pada harga yang paling rendah sekalipun, adalah sekitar 8,8 kali dari biaya yang dikeluarkan.
Tetapi, masih ada pertanyaan sulit berkaitan dengan siapa yang akan membayar pelestarian berkelanjutan dari hutan-hutan ini. Sampai sekarang tak ada satu pihak pun yang mampu menyediakan jumlah besar yang dibutuhkan. Tetapi, dengan poin penjualan karbon mencapai 100 dolar per ton, negara-negara tropis mungkin tertarik untuk memberikan perhatian. Konsepnya adalah
negara-negara yang dapat mengurangi atau menghapus laju penggundulan hutan yang tinggi dapat menerima poin karbon yang akan diakui dan dapat ditransaksikan di pasar karbon. Negara-negara yang sulit memenuhi target emisi karbon di bawah Protokol Kyoto atau perjanjian selanjutnya tentang iklim dapat membeli poin yang dihasilkan dari pencegahan penggundulan hutan tadi untuk memenuhi target tersebut. Maka, manfaat bagi pembeli dan penjual poin karbon dapat tercapai, sedang manfaat hutan tropis dapat dilestarikan untuk umat manusia.
Pendekatan lain adalah dengan memfokuskan pada lahan tropis yang secara khusus menjadi sasaran penggundulan hutan. Penggundul-an hutan tropis terbanyak terjadi di delapan negara, di mana 50 persen terjadi di Brasil dan Indonesia. Maka, guna memaksimalkan efisiensi sejak awal, pendekatan pendahuluan yang mungkin dilakukan adalah memfokuskan pada strategi penggundulan hutan "yang dihindari" dan pendanaan bagi negara-negara ini. Studi memper-kirakan bahwa untuk dapat mengurangi laju penggundulan hutan tropis secara signifikan diperlu- kan biaya antara 2,2 dan 5 mi-liar dolar untuk jangka lebih lama.
"Melindungi hutan tropis bukanlah pekerjaan mudah. Dibutuhkan pengukuran, pemantauan, dan sistem administrasi dan pengaturan. Diperlukan berbagai upaya untuk memastikan kegiatan penggundulan hutan tidak hanya akan mengalihkannya ke wilayah atau negara lain yang tata pemerintahannya kurang tegas. Cara seperti ini akan rumit, tetapi dimungkin-kan apabila menggunakan satelit atau laser pengukur kepadatan" tegasnya.
Ongkos dan biaya kompensasi untuk kegiatan pemantauan akan jauh lebih sedikit daripada keuntungan ekonomis yang diperoleh dari penyerapan karbon. Bahkan tanpa memperhitungkan manfaat lainnya yang berasal dari hutan. Meskipun sebuah sistem perlindungan hutan mungkin tidak dapat diimplementasikan secara mudah, namun potensi manfaat perlindungan hutan sangat besar. Menghentikan penggundulan hutan merupakan cara yang sangat ampuh untuk membantu manusia menghadapi ancaman perubahan iklim secara efektif.
Untuk menuju hal itu masih banyak problem yang akan timbul dan harus dicari jalan keluarnya. Selain itu, perlu juga dicari mekanisme apabila ada penipuan dan bagaimana dana yang didapat bisa sampai ke masyarakat yang membutuhkan (rakyat miskin) yang tinggal di sekitar hutan.
"Mekanisme tersebut akan memberikan insentif pada mereka, sehingga tidak mengkonversi hutan," tambah Dr. Sedjo yang saat ini menjabat sebagai senior dan direktur the Forest Economics & Policy Program at Resources for the Future dan Resources for the Future Washington, DC U.S. Department of State Speaker and Specialist.
"Selama lebih dari 25 tahun, Dr. Sedjo telah membuahkan hasil-hasil penelitian yang sangat berarti di bidang perubahan iklim, penyediaan kayu, keanekaragaman hayati, deforestasi dan biofuel untuk energi. Dan pada tahun 2007, sebagai anggota the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), Dr. Sedjo dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian atas dedikasinya di bidang perubahan iklim," jelas Dr. Suryo Adiwibowo, Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB saat menjadi moderator dalam kuliah umum ini.
Kepala PPLH-LPPM IPB, Prof. Dr. Dedi Soedharma, DEA mengatakan, kuliah umum ini terselenggara atas permintaan Kedutaan Besar Amerika Serikat. Hadir dalam acara tersebut, Sekretaris PPLH-LPPM IPB Dr. Lilik B. Prasetyo, staf pengajar, peneliti, dan mahasiswa IPB. (zul)
