Mencari Genotip Cabai Tahan Antraknosa
Produktivitas cabai dari tahun ke tahun menurun. Tahun 2004, produktivitas cabai merah hanya 5.67 ton per hektar, padahal potensi produksi cabai merah mencapai 194, 6 ribu hektar. Salah satu penyebab rendahnya produktivitas cabai Indonesia adalah gangguan hama dan penyakit. Beberapa penyakit dominan menyerang cabai antara lain antraknosa, hawar Phytophthora (serangga), layu bakteri dan virus. Dari berbagai penyakit itu, antraknosa penyebab paling utama rendahnya produktivitas cabai di Indonesia.
Serangan antraknosa ini disebabkan cendawan genus Colletotrichum. Cendawan ini mempunyai enam spesies utama yaitu C. gloeosporiodes, C.acutatum, C.dematium, C.capsici dan C.acutatum. Colletotrichum gloeosporiodes dan C.acutatum mengakibatkan kerusakan buah dan kehilangan hasil paling besar. Lebih dari 90 persen antraknosa yang menginfeksi cabai diakibatkan Colletotrichum gloeosporiodes. Namun akhir-akhir ini, Colletotrichum acutatum menggantikan 'posisi' gloeosporiodes.
Gejala penyakit ini berupa bercak kecil pada buah cabai. Selama musim hujan bercak ini berkembang cepat. Bahkan pada lingkungan kondusif penyakit ini dapat menghancurkan seluruh areal pertanaman cabai.
Umumnya varietas cabai yang ada saat ini rentan terhadap penyakit antraknosa. Penyakit ini mampu menurunkan hasil cabai hingga 75 persen. Pengendalian sangat intensif menggunakan fungisida kontak dan fungisida sistemik pun belum optimal. Di daerah Brebes Jawa Tengah, antraknosa masih merugikan hingga 45 persen, Demak hingga 65 persen, sedangkan di Sumatera Barat mencapai 35 persen. "Oleh karena itu penggunaan varietas yang resisten merupakan cara paling tepat untuk mengatasi masalah penyakit antraknosa," kata Mahasiwa S3 Program Studi Agronomi Institut Pertanian Bogor (IPB), Muhamad Syukur dalam disertasinya 'Analisis Genetik dan Studi Pewarisan Sifat Ketahanan Cabai (Capsicum annuum L) terhadap Antraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum acutatum'.
Sebelum merakit varietas tahan penyakit antraknosa, Staf Pengajar Departemen Agronomi Hortikultura Fakultas Pertanian IPB ini memilah tetua donor tahan atraknosa dan mencari informasi genetik untuk menentukan metode seleksi yang tepat. Dalam penelitiannya yang dikerjakan mulai bulan Agustus 2005 hingga Mei 2007, Syukur menggunakan 14 genotip tanaman. Keempat belas genotip tersebut ialah C-1, C-2, C-3, C-4, C-5, C-7, C-8, C-9, C-15, C-18, C-19, C-28, C-47 dan C-49. Penelitian ini dilakukan 4 tahap percobaan, antara lain: identifikasi ketahanan, pewarisan ketahanan cabai, analisis silang dialel untuk pendugaan parameter genetik ketahanan cabai, dan interaksi genetik x lingkungan untuk ketahanan cabai terhadap antraknosa yang disebabkan oleh Colletotricum acutatum.
Hasil penelitian menunjukkan C-15 tahan antraknosa yang disebabkan C. Acutatum. "C-15 diduga mengandung senyawa biokimia tertentu yang tahan terhadap antraknosa. Sementara C-18 diduga mempunyai mekanisme ketahanan fisik terhadap penyakit antraknosa," jelas Syukur. Ketahanan ini dikendalikan oleh banyak gen resesif dengan aksi gen resesif bukan gen dominan.
Genotip C-15 mempunyai daya gabung umum yang baik sehingga sangat bagus digunakan sebagai tetua tahan dalam perakitan varietas tahan terhadap antraknosa. Syukur menyarankan perlu penelitian lanjut mengenai mekanisme ketahanan cabai terhadap antraknosa yang disebabkan C. Acutatum. Ia juga menyarankan metode perakitan varietas tahan adalah metode persilangan ganda dengan pemisahan transgresif. Penelitian ini dibawah komisi pembimbing yang terdiri dari Dr.Ir.Sriani Sujiprihati, MS, Prof.Dr.Ir.Jajah Koswara dan Dr.Ir.Widodo, MS (ris/nUr)
