TEP IPB University Fasilitasi Pelatihan Pengolahan Ikan Gastor Jadi Minyak Albumin

TEP IPB University Fasilitasi Pelatihan Pengolahan Ikan Gastor Jadi Minyak Albumin

tep-ipb-university-fasilitasi-pelatihan-pengolahan-ikan-gastor-jadi-minyak-albumin
Berita / Pengabdian Masyarakat / Student Insight

Tim Ekspedisi Patriot (TEP) IPB University memfasilitasi pelatihan bagi pelaku usaha mikro, kecil, menengah (UMKM), kader posyandu, serta guru dan siswa SMK untuk mengolah ikan gastor menjadi produk minyak albumin. Pelatihan yang diikuti 25 peserta ini berlangsung di Balai Kampung Sidomulyo, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Papua Selatan (30/10).

Pelatihan ini berangkat dari kondisi ikan gastor di Merauke yang sebagian besar masih dijual dalam keadaan mentah tanpa pengolahan lebih lanjut, dengan harga sekitar Rp10 ribu per kilogram. Padahal, potensinya sangat besar. Setelah diolah menjadi minyak albumin, nilainya dapat melonjak hingga Rp100 ribu per botol, sehingga pengolahan ini dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga.

Ketua TEP IPB University, Dr Muhammad Iqbal Irfany, menekankan pentingnya pengembangan produk yang berakar pada kondisi setempat. “Pemanfaatan produk herbal harus dibarengi dengan kebiasaan masyarakat dan potensi lokal yang ada. Dengan begitu, produk yang dikembangkan akan lebih mudah diterima dan dapat terus berlanjut di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ikan gastor merupakan sebutan masyarakat Merauke untuk ikan gabus (Channa striata). Ikan air tawar yang banyak hidup di rawa dan sungai Merauke ini dikenal kaya protein albumin. Adapun minyak albumin adalah sari atau ekstrak cair yang diperoleh dari daging ikan gastor melalui proses pengukusan dan penyulingan dengan api kecil, lalu dikemas dalam botol sebagai produk kesehatan.

Narasumber pelatihan, Simon Sirena Sau, Kepala Program Studi Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian SMK Negeri 5 Merauke, menjelaskan bahwa albumin merupakan protein yang berperan dalam regenerasi sel dan jaringan, menjaga keseimbangan cairan tubuh, serta membantu transportasi molekul dalam plasma darah. Dari 10 kilogram ikan gastor, dapat dihasilkan sekitar 1,2 hingga 1,5 liter albumin. Biaya satu kali produksi sekitar Rp600 ribu untuk 10 botol, dengan harga jual Rp100 ribu per botol.

Setelah albumin keluar, daging ikan yang tersisa dapat diolah menjadi abon ikan. Sementara itu, tulang ikan dapat dijadikan tepung sebagai campuran pakan ternak. Dengan begitu, seluruh bagian ikan gastor dapat dimanfaatkan sehingga tidak menyisakan limbah.

Sesi diskusi berlangsung aktif. Irawati, guru SMK Negeri 11 Merauke, menanyakan cara penyimpanan dan umur simpan minyak albumin. “Bagaimana cara menyimpan minyak albumin yang sudah diproduksi, dan berapa lama produk ini bisa bertahan?” tanyanya. Simon menjelaskan bahwa minyak albumin harus disimpan di dalam lemari pendingin. Jika disimpan dengan cara yang sesuai, produk dapat awet hingga enam bulan.

Selain soal penyimpanan, peserta juga menanyakan alat produksi yang digunakan, kondisi ikan yang baik untuk diolah, hingga cara mengetahui albumin sudah keluar. Simon menjelaskan bahwa ikan sebaiknya masih segar dan langsung diproses setelah dibersihkan, sedangkan proses pengukusan dilakukan dengan api kecil agar kualitas albumin tetap terjaga.

Di akhir kegiatan, peserta dan narasumber membentuk grup komunikasi bersama sebagai wadah untuk berbagi informasi dan berdiskusi lebih lanjut mengenai pengolahan minyak albumin. (*/Rz)