Pakar Genetika Ekologi IPB University Ungkap Peran Daging yang Mengubah Evolusi Manusia

Pakar Genetika Ekologi IPB University Ungkap Peran Daging yang Mengubah Evolusi Manusia

pakar-genetika-ekologi-ipb-university-ungkap-peran-daging-yang-mengubah-evolusi-manusia
Ilustrasi: magnific
Berita / Riset dan Kepakaran

Tiga juta tahun lalu, kehidupan manusia sangat berbeda. Di Afrika Timur, Australopithecus, makhluk kecil, kurus, dan tak berbulu lebat, mengintip singa yang baru menyantap zebra serta hiena yang menunggu giliran. Setelah predator pergi, mereka berlari mengais sisa sumsum tulang. 

Jorok? Iya. Namun, menurut Pakar Genetika Ekologi IPB University, kebiasaan tersebut membantu membentuk kehidupan manusia hari ini. Kisah “pemulung savana” itu menjelaskan bagaimana manusia berevolusi menjadi spesies yang cerdas.

Dari Vegan Jadi Omnivora
Prof Ronny menjelaskan, nenek moyang primata berevolusi sebagai vegan, pemakan buah, daun, biji, dan umbi. Gorila mengunyah daun sepanjang hari, sedangkan simpanse makan buah lima jam sehari. Namun, kekeringan di savana sekitar 2,6–3 juta tahun lalu membuat buah tak selalu tersedia dan memengaruhi pola makan manusia purba.

“Di Ethiopia, arkeolog menemukan tulang kaki antelop purba dengan bekas sayatan alat batu yang rapi, bukan bekas gigitan singa. Temuan ini menjadi bukti pertama bahwa manusia pada masa itu sudah mengonsumsi daging,” kata dia.

Mengapa manusia mengubah kebiasaan makan? Tak lain terkait kalori yang krusial untuk bertahan hidup. Di dunia yang lapar, daging menjadi sumber energi alami yang bergizi tinggi karena padat, cepat, dan efisien.

“Untuk memperoleh 500 kalori dari buah liar, manusia purba harus berjalan 10 km, memanjat pohon, dan mengunyah selama berjam-jam. Jumlah yang sama dari lemak sumsum tulang zebra hanya membutuhkan 10 menit untuk mengais dan sebuah batu untuk memecahkan tulang,” ujarnya.

Otak yang Rakus Energi
Berat otak berat hanya dua persen dari tubuh, tetapi membutuhkan 20 persen energi harian. Bagaimana otak nenek moyang membesar dari 400 cc, seperti simpanse, menjadi 1.350 cc? Jawabannya, kata Prof Ronny, adalah Expensive Tissue Hypothesis: tubuh punya anggaran energi terbatas. 

“Gorila memakai 80 persen energinya untuk usus sepanjang 10 meter yang mencerna daun. Saat nenek moyang kita makan daging dan lemak yang lebih mudah dicerna, usus tak perlu sepanjang itu, dan energi yang dihemat dialihkan untuk otak.

Otak besar tidak mungkin lahir di tubuh pemakan daun. Otak besar lahir karena kita berhenti menjadi pemakan daun. Daging bukan sekadar lauk, melainkan bahan bakar dan energi otak,” jelasnya.

Pasukan ‘Bakteri’ dan Penemuan Api
Prof Ronny menjelaskan, perubahan ini juga melibatkan bakteri usus. Manusia tak bisa tiba-tiba berkata, “Mulai besok saya makan steak,” lalu langsung kuat. Triliunan bakteri di usus juga harus beradaptasi.

Seiring nenek moyang makan daging, bakteri pengolah protein dan lemak berkembang, sedangkan bakteri pemakan daun punah. Jadi, kata dia, evolusi bukan hanya perubahan gen manusia, melainkan adaptasi bersama manusia dan bakteri.

Selain itu, skitar 1,5 juta tahun lalu, Homo erectus mulai menggunakan api. “Jika daging adalah bahan bakarnya, api adalah mesin turbonya,” jelasnya. Api membuat protein alot menjadi empuk dan mudah diserap, serta mematikan parasit dan bakteri. 

Simpanse menghabiskan 5 jam sehari mengunyah makanan mentah, sedangkan manusia hanya 1 jam untuk makanan matang. Empat jam sisanya dipakai untuk membuat alat, berbincang, menciptakan bahasa, dan membangun hubungan sosial.

Jejak di Tubuh dan Ironi Masa Kini
“Bukti bahwa nenek moyang kita pernah jadi pemulung daging masih ada di tubuh kita sekarang, rahang mengecil, usus besar memendek, dan usus halus memanjang yang merupakan desain khusus untuk menyerap protein hewani, nukan fermentasi daun,” tuturnya.

Namun, ironinya, tubuh manusia berevolusi di dunia yang kekurangan kalori, sehingga otak diprogram untuk makan lemak dan daging sebanyak-banyaknya. Kini makanan olahan seperti sosis, burger, dan fried chicken tersedia 24 jam, sementara gen manusia masih memakai “software” Zaman Batu. Akibatnya, sistem yang dulu mencegah kelaparan kini memicu obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung.

“Kita tidak didesain untuk menolak daging. Daging tidak membuat kita menjadi pembunuh kejam; daging membuat kita menjadi manusia. Kita tidak menjadi cerdas lalu makan daging. Dengan makan daging, kita menjadi lebih cerdas,” tutup Prof Ronny. (*/Rz)