IPB University dan Mitra Belanda Dorong Pertanian Regeneratif, Petani Bawang Merah Cirebon Uji Biochar dan Compost Tea
IPB University bersama sejumlah perguruan tinggi dan lembaga vokasi dari Netherlands Knowledge House (NLKH)—yakni Saxion, Van Hall Larenstein, Aeres, The Hague University of Applied Sciences, dan MBO Rijnland—mengevaluasi uji coba tahap pertama penerapan biochar dan compost tea pada budi daya bawang merah di Cirebon.
Evaluasi ini dilakukan dalam “Focus Group Discussion (FGD) Improving Soil Health and Biological Crop Support in Indonesia Through Regenerative Approaches: A Collaborative Initiative Between Indonesia and The Netherlands in Support of Sustainable Food System Development” (30/9–2/10).
FGD turut melibatkan petani bawang merah dari Cirebon, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Bestari 2026, Q-Point, dan Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS). Kegiatan merupakan bagian program Bestari Saintek dengan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Petani hortikultura di Indonesia umumnya mengelola lahan terbuka yang sempit, sekitar 1.000 hingga 2.000 meter persegi. Praktik monokultur yang berlangsung puluhan tahun menurunkan kualitas tanah dan mendorong penggunaan pupuk serta agrokimia sintetis yang tinggi. Dampaknya, residu bahan kimia dan risiko cemaran mikroba seperti E. coli dapat menghambat akses ke pasar internasional.
Biochar dipandang sebagai salah satu solusi karena dapat memperbaiki struktur tanah serta meningkatkan kemampuan tanah menahan air dan hara. Untuk mengujinya pada kondisi nyata, IPB University dan sejumlah mitra tersebut turut membangun living lab bersama.
Ketua Pelaksana, Prof Eko Hari Purnomo, menekankan pentingnya kesehatan tanah, tanaman, dan pangan secara terintegrasi untuk meningkatkan produktivitas bawang merah di Indonesia.
“FGD ini diharapkan menjadi pijakan kerja sama lanjutan antara IPB University, YBTS, dan asosiasi petani bawang merah di Cirebon. Dengan memadukan keahlian akademisi, mitra industri, dan pengalaman langsung petani, kolaborasi Indonesia-Belanda ini diarahkan untuk menghadirkan praktik hortikultura yang lebih sehat, tangguh terhadap perubahan iklim, dan berkelanjutan,” tuturnya.
Dalam sesi diskusi, petani dan mahasiswa mengevaluasi musim tanam pertama, mengidentifikasi kendala di lapangan, dan menyusun rencana untuk musim tanam kedua. Peserta menyepakati bahwa iterasi musim tanam kedua akan melibatkan berbagai pihak.
Pada musim tanam kedua, EWINDO menyiapkan benih true shallot seed (TSS), sedangkan IPB University menyiapkan compost tea. Selain itu, IPB University juga menyediakan biochar bersama petani dan YBTS. Penerapan akan dilakukan di tiga lokasi petani dengan luasan sekitar 300 meter persegi, dengan pengamatan pada minggu kedua November.
Forum ini sekaligus menjadi sarana transfer pengetahuan dan teknologi penerapan biochar. Pada sesi materi, hadir lima narasumber, yakni William Sanchez (Saxion University of Applied Sciences); Dr Edwin Sanso Saragih, Indri Hapsari, MSi, Prof Sri Hendrastuti Hidayat (IPB University); dan Olivia Ansenk (Q-Point).
Di sela rangkaian kegiatan, para petani mengunjungi fasilitas Smart Plant Factory di Center for Plant Phenotyping and Controlled Environment Agriculture (CPP-CEA) FTT IPB University untuk melihat teknologi budi daya terkendali. Pada hari terakhir, peserta mengunjungi Agribusiness and Technology Park (ATP) IPB University serta Rumah Bawang EWINDO di Soreang, Bandung. (*/Rz)
