Mahasiswa IPB University Kembangkan SiMata, Skrining Awal NAPZA Berbasis AI Lewat Respons Pupil

Mahasiswa IPB University Kembangkan SiMata, Skrining Awal NAPZA Berbasis AI Lewat Respons Pupil

mahasiswa-ipb-university-kembangkan-simata-skrining-awal-napza-berbasis-ai-lewat-respons-pupil
Berita / Student Insight

Mendeteksi penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA) tidak selalu mudah. Selama ini metode pemeriksaan konvensional umumnya membutuhkan prosedur dan fasilitas tertentu. 

Berangkat dari persoalan tersebut, lima mahasiswa IPB University merancang SiMata, sistem pemeriksaan awal nonmedis berbasis analisis respons pupil mata dan kecerdasan buatan (AI).

Perwakilan tim, Dwina Sarah Diva, mengatakan gagasan tersebut muncul karena penyalahgunaan narkotika di Indonesia telah berkembang menjadi ancaman multidimensional yang mengancam kualitas sumber daya manusia dan ketahanan bangsa. 

Data Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat prevalensi penyalahgunaan narkoba pada 2023 mencapai 1,73 persen dari total penduduk usia 15–64 tahun atau setara sekitar 3,33 juta jiwa.

“Di lapangan, perubahan perilaku seperti emosi tak stabil atau menurunnya kendali diri kerap dianggap sekadar ‘kenakalan remaja biasa’, sehingga indikasi paparan zat terlambat disadari dan penanganannya menjadi kurang optimal,” ucapnya.

Menurutnya, metode deteksi konvensional seperti tes urine, darah, rambut, dan saliva memiliki keterbatasan dalam akurasi, jendela waktu deteksi, serta kebutuhan fasilitas khusus. “Sifatnya yang invasif dan berbiaya tinggi membuat metode ini sulit diterapkan secara rutin dan berkala di lingkungan sekolah maupun kampus,” tambahnya.

Visualisasi SiMata
Visualisasi SiMata

Pupil sebagai Indikator
Gagasan SiMata berpijak pada temuan riset bahwa paparan zat psikoaktif memengaruhi diameter pupil secara spesifik dan cepat. Respons tersebut dianalisis menggunakan kamera internal melalui tahap pengolahan citra dan algoritma convolutional neural network (CNN) untuk mengenali pola dinamis perubahan ukuran pupil terhadap stimulus cahaya.

Sistem kemudian mengelompokkan hasil menjadi tiga kategori, yakni 1) aman, 2) perlu pemeriksaan lanjutan, dan 3) perlu perhatian. Data individu yang telah dianonimkan dirancang untuk diintegrasikan ke basis data nasional.

Dwina menggarisbawahi bahwa SiMata diposisikan murni sebagai instrumen skrining awal, bukan diagnosis akhir maupun pengganti tes medis formal.

Menuju Implementasi
Saat ini, tim telah melakukan audiensi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Bogor dan bermitra dengan SMK Pembangunan untuk produksi video edukatif.

“Melalui inovasi ini, kami berharap dapat menghadirkan alat skrining awal yang noninvasif, cepat, dan lebih terjangkau untuk mendukung deteksi dini di sekolah maupun kampus,” harapnya.

Gagasan tersebut juga diarahkan untuk mendukung lingkungan pendidikan yang lebih aman, mendorong intervensi preventif seperti konseling dan edukasi, serta membuka jalan bagi kebijakan pencegahan narkoba yang lebih berbasis data.

SiMata berhasil mendapat pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK) 2026. Selain Dwina, tim terdiri dari Fahriatu Saidah, Citra Putri Marlin, Jihan Delly Naysilla, dan Najwa Alya Kamaludin, dengan bimbingan Dr Medhanita Dewi Renanti. Kini, Dwina dan tim berkomitmen mengawal gagasan ini menuju ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) November mendatang. (dh)