Pakar Perilaku Konsumen IPB University Ungkap Pengaruh Desain Kemasan terhadap Keputusan Pembelian

Pakar Perilaku Konsumen IPB University Ungkap Pengaruh Desain Kemasan terhadap Keputusan Pembelian

pakar-perilaku-konsumen-ipb-university-ungkap-pengaruh-desain-kemasan-terhadap-keputusan-pembelian
Ilustrasi: magnific
Riset dan Kepakaran

Desain kemasan jus di Jepang yang menampilkan gambar buah secara menarik menjadi perhatian karena tidak hanya berfungsi sebagai daya tarik visual, tetapi juga dapat memberikan petunjuk kepada konsumen mengenai produk yang ditawarkan.

Guru Besar Ilmu Perilaku Konsumen IPB University, Prof Ujang Sumarwan, menjelaskan bahwa desain kemasan dapat memberikan pengaruh besar ketika konsumen harus memilih dengan cepat di antara berbagai merek. 

“Ketika konsumen harus memilih dengan cepat di antara banyak merek, kemasan menjadi stimulus pemasaran,” ujar Prof Ujang.

Menurutnya, warna, bentuk, ukuran, gambar buah, tipografi, hingga informasi yang tercantum pada kemasan akan menjadi bagian dari proses pengolahan informasi konsumen. Elemen tersebut menjadi stimulus awal yang menarik perhatian sebelum konsumen memutuskan untuk melihat informasi produk lebih lanjut.

Perceptual Shortcut
Dalam konteks kemasan jus, gambar buah dapat menjadi petunjuk visual yang mudah dikenali. Misalnya, gambar jeruk, apel, mangga, atau anggur dapat langsung menghubungkan konsumen dengan jenis buah maupun rasa tertentu tanpa harus membaca penjelasan panjang.

“Dalam teori pemrosesan informasi, gambar dapat berfungsi sebagai perceptual shortcut,” jelasnya.

Menurut Prof Ujang, penggunaan visual menjadi penting karena konsumen memiliki keterbatasan waktu, perhatian, dan kemampuan dalam memproses informasi. Ketika berada di supermarket atau minimarket, konsumen mungkin hanya memiliki beberapa detik untuk memperhatikan sebuah produk. Visual yang sederhana dan mudah dikenali dapat membantu mengurangi usaha kognitif dalam memahami produk.

Namun, ia menekankan bahwa gambar pada kemasan tidak selalu memberikan informasi yang lengkap. Gambar buah dapat membantu konsumen mengenali jenis atau rasa jus, tetapi belum tentu menunjukkan seberapa besar kandungan buah di dalam produk.

“Gambar buah mungkin mengatakan ini produk jeruk, tetapi belum tentu menjawab berapa persen kandungan sari buahnya,” ujarnya.

Karena itu, visual pada kemasan sebaiknya dipadukan dengan informasi verbal maupun numerik. Konsumen tetap perlu memperhatikan komposisi dan keterangan produk untuk mengetahui kandungan sebenarnya.

Prof Ujang juga mengingatkan bahwa gambar pada kemasan merupakan bagian dari komunikasi pemasaran dan tidak dengan sendirinya menjadi bukti mengenai komposisi produk. Tampilan buah yang dominan dapat membentuk persepsi tertentu terhadap produk, sehingga konsumen perlu memahami informasi secara lebih menyeluruh.

“Prinsip yang penting adalah visual harus membantu konsumen memahami produk, bukan sekadar membuat konsumen membeli produk,” tegasnya.

Dengan demikian, kemasan jus tidak hanya berperan sebagai pembungkus, tetapi juga menjadi media komunikasi yang membantu konsumen mengenali dan memahami produk. Dalam hal ini, desain visual yang tepat dapat mempermudah proses pengambilan keputusan, sementara informasi yang jelas tetap diperlukan agar persepsi konsumen sesuai dengan kondisi produk yang sebenarnya. (Ez)