Pesan Pakar IPB di Konferensi Keluarga Asia Pasifik: Penguatan Pengasuhan Anak Perlu Libatkan Seluruh Ekosistem
Tumbuh kembang anak tidak hanya berlangsung di rumah. Kualitas pengasuhan yang diterima anak juga dipengaruhi lingkungan di sekitarnya, sehingga penguatan kapasitas orang tua perlu berjalan beriringan dengan dukungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah.
Pakar Pengasuhan Anak IPB University, Prof Dwi Hastuti, menekankan pentingnya penguatan pengasuhan secara holistik dan kolaboratif. Hal tersebut disampaikannya dalam Konferensi Keluarga Asia Pasifik di Hotel Cosmo Amarossa, Jakarta Pusat, Sabtu (12/9).
“Keluarga merupakan sekolah pertama dan utama bagi anak. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas pengasuhan orang tua menjadi hal esensial yang perlu diperhatikan,” ucapnya.
Pengasuhan Perlu Kolaborasi
Prof Dwi mengatakan, penguatan pengasuhan membutuhkan kolaborasi yang harmonis antara ayah dan ibu serta seluruh ekosistem, yaitu keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah.
Menurutnya, program pengasuhan juga dapat dilakukan di tingkat masyarakat oleh organisasi wanita. Program tersebut sebaiknya bersifat terencana, dengan supervisi serta monitoring dan evaluasi (monev) yang terintegrasi dengan data, didukung tenaga kader dan fasilitator serta dana masyarakat mandiri.
Program pengasuhan juga melibatkan penguatan nilai religius dan spiritual di tingkat keluarga dan masyarakat hingga terbentuknya karakter mulia sejak usia dini.
Forum Keluarga Asia Pasifik
Gagasan tersebut disampaikan Prof Dwi dalam Konferensi Keluarga Asia Pasifik yang diselenggarakan Pusat Belajar Keluarga Madani (PBKM). Konferensi bertema “Resiliensi Keluarga dan Kemajuan Negara-Negara di Kawasan: Penguatan Peran Perempuan dan Pengokohan Keluarga di Asia Pasifik” ini menjadi ajang kolaborasi dan saling tukar pengalaman.
Konferensi internasional tersebut menghadirkan sekitar 200 peserta dari enam negara, yakni Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Singapura, dan Sri Lanka. Forum ini mempertemukan berbagai unsur, mulai dari komunitas, organisasi masyarakat, pemerhati, akademisi, peneliti, pemangku kebijakan, tokoh agama, praktisi pendidikan, anak, dan keluarga.
Ketua Pusat Belajar Keluarga Madani yang hadir, Dr Aan Rohanah, juga menekankan pentingnya keluarga sebagai fondasi dalam membangun peradaban.
“Keluarga bukan sekadar unit terkecil masyarakat, melainkan fondasi utama dalam membangun peradaban,” ujarnya. Menurutnya, setiap anggota keluarga merupakan komunitas yang harus terus ditumbuhkan agar mampu melahirkan generasi berintegritas. (dh)
