Mahasiswa S2 dan S3 Ilmu Keluarga IPB University Kaji Digitalisasi dan Penetrasi Teknologi bagi Keluarga Baduy
Kehadiran telepon pintar (smartphone) dan internet tidak hanya mengubah cara manusia memperoleh informasi, tetapi juga dapat memengaruhi komunikasi, pengasuhan, relasi antargenerasi, dan pewarisan nilai dalam keluarga.
Perubahan tersebut menjadi salah satu fokus pembelajaran lapang mahasiswa pascasarjana IPB University di kawasan Baduy, Kabupaten Lebak, Banten (12–13/9).
Kegiatan ini diikuti oleh 43 mahasiswa, terdiri atas 36 mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Keluarga dan Perkembangan Anak (IKA) dan 7 mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Keluarga, Fakultas Ilmu Sosial dan Ekologi Manusia (FISEMA) IPB University.
Melalui wawancara keluarga dan observasi langsung, mahasiswa menelaah bagaimana teknologi memasuki kehidupan keluarga yang memiliki sistem nilai dan aturan adat yang kuat. Kajian diarahkan pada akses dan penggunaan telepon pintar serta internet, perbedaan pengalaman antargenerasi, perubahan pola komunikasi keluarga, dan batasan adat dalam pemanfaatan teknologi.
Digitalisasi juga dikaji dalam kaitannya dengan pendidikan anak, mata pencaharian, pemasaran produk, pariwisata, dan interaksi dengan masyarakat luar. Di satu sisi, teknologi dapat memperluas akses informasi dan peluang ekonomi. Di sisi lain, penggunaannya dapat menghadirkan tantangan terhadap pengawasan orang tua, kualitas interaksi keluarga, perlindungan anak, privasi, serta keberlanjutan nilai yang diwariskan antargenerasi.
Prof Euis Sunarti, Guru Besar Ilmu Keluarga IPB University sekaligus dosen pembimbing program ini menjelaskan, teknologi tidak dapat dipandang hanya sebagai simbol kemajuan ataupun sebagai ancaman bagi keluarga.
“Persoalannya bukan sekadar ada atau tidaknya teknologi, tetapi bagaimana keluarga memaknai, mengendalikan, dan menggunakannya. Teknologi dapat menjadi sumber daya keluarga, tetapi juga membawa risiko apabila tidak disertai batasan yang sesuai dengan nilai keluarga serta komunitas,” ujarnya.
Menurut Prof Euis, kemampuan keluarga mengelola penetrasi teknologi merupakan bagian dari dinamika dan ketahanan keluarga. Respons keluarga dapat berbeda bergantung pada kepatuhan nilai dan aturan adat, pengetahuan serta literasi digital, pola pengasuhan, kondisi sosial ekonomi, akses terhadap teknologi, dan pengaruh lingkungan sosial.
Kajian tersebut juga memperlihatkan pentingnya membangun lingkungan digital yang ramah keluarga. Lingkungan ini tidak hanya menyediakan akses teknologi, tetapi juga melindungi anak, memperkuat kapasitas orang tua, mendorong penggunaan yang bertanggung jawab, dan memberi ruang bagi masyarakat untuk menjaga nilai serta identitas budayanya.
Pembelajaran lapang ini mengintegrasikan pendekatan project-based learning dan problem-based learning pada mata kuliah Dinamika Keluarga, Ketahanan dan Kebijakan Keluarga, serta Keluarga dan Pembangunan. Mahasiswa didorong untuk menghubungkan konsep yang dipelajari di kelas dengan realitas perubahan yang dialami keluarga dan komunitas.
Kuliah lapang dibimbing oleh Prof Euis Sunarti sebagai pengampu mata kuliah, serta dibantu oleh Dr Defina, Rahmi Damayanti, MSi, dan Muhammad Fikri Maulana, MPsi. Melalui pembelajaran ini, mahasiswa diharapkan mampu merumuskan analisis dan rekomendasi yang tidak hanya responsif terhadap perkembangan teknologi, tetapi juga menghargai nilai, kebutuhan, dan karakteristik keluarga masyarakat adat. (*/Rz)
