Uji Coba Drone Pertanian Hingga Bedah Rantai Nilai Beras, TEP IPB University Perkuat Agribisnis Padi Papua
Tim Ekspedisi Patriot (TEP) IPB University yang diketuai oleh Dr Doni Sahat Tua Manalu menggandeng mitra strategis lintas sektor—termasuk TNI, pelaku usaha, pemerintah daerah, dan petani—untuk mendorong modernisasi budi daya padi di Kabupaten Merauke.
Langkah strategis ini diwujudkan melalui uji coba teknologi drone Agras berkapasitas 20 liter di lahan sawah seluas tiga hektare milik petani setempat, sekaligus menggelar “Focus Group Discussion (FGD) Analisis Rantai Nilai Bisnis Beras Lokal” di Aula Kodam XXIV/Mandala Trikora.
Aplikasi drone Agras terbukti memberikan lonjakan efisiensi penyemprotan pupuk dan pestisida yang signifikan dibanding metode manual. Untuk lahan seluas satu hektare, drone hanya membutuhkan waktu kurang dari 20 menit dan dua tangki cairan, sedangkan metode manual memerlukan waktu hingga empat jam dengan 20 tangki.
“Drone ini sangat menghemat tenaga, air yang digunakan, pupuk, dan obat-obatan,” ujar Margono, petani pemilik lahan penyemprotan.
Pemanfaatan teknologi ini juga dinilai relevan dengan karakteristik Merauke yang memiliki kepemilikan lahan luas hingga 10 hektare per petani. Meski demikian, tim mencatat bahwa penggunaan drone berbobot berat ini membutuhkan penataan infrastruktur jalan usaha tani yang memadai, terutama saat musim hujan di lahan rawa.
Wilda salah satu anggota tim menyampaikan gagasan pembentukan Sekolah Drone bagi petani Merauke. “Sekolah tersebut diharapkan menjadi wadah pembelajaran bagi petani dan operator lokal untuk memahami pengoperasian, perawatan, serta pemanfaatan drone secara tepat dalam kegiatan pertanian,” ungkapnya.
FGD Rantai Nilai Beras
Menindaklanjuti efisiensi di tingkat budi daya, tim IPB University menggelar FGD yang mempertemukan petani, penyuluh, pengelola rice milling unit (RMU), pemerintah daerah, hingga pelaku usaha hotel, restoran, dan kafe (horeka). Forum ini membedah persoalan rantai nilai dari hulu ke hilir, mulai dari kendala benih unggul, pintu air, keterbatasan alat panen, hingga pasokan solar subsidi.
Kapolsek Tanah Miring, Wilustono, menekankan pentingnya intervensi di setiap titik distribusi. “Rantai nilai bisnis padi jangan ada yang terputus. Semua pihak diharapkan sama-sama mendapatkan keuntungan yang baik. Karena itu, perlu ada intervensi di setiap rantai,” tegasnya.
Seluruh data efisiensi lapangan dan aspirasi masyarakat dari FGD ini dirumuskan oleh tim menjadi laporan rekomendasi resmi. “Beragam usulan masyarakat ini akan kami susun dalam bentuk matriks atau proposal sehingga dapat diteruskan kepada bidang yang terkait,” jelas Doki, salah satu anggota tim.
Integrasi dari hulu hingga hilir ini diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi yang kembali kepada petani serta menciptakan ekosistem bisnis beras Merauke yang mandiri dan berkelanjutan. (*/Rz)
