LPA2I IPB University dan PKGA Bahas Indikator Implementasi Pengarusutamaan Gender Perspektif GEDSI

LPA2I IPB University dan PKGA Bahas Indikator Implementasi Pengarusutamaan Gender Perspektif GEDSI

lpa2i-ipb-university-dan-pkga-bahas-indikator-implementasi-pengarusutamaan-gender-perspektif-gedsi
Berita / Pengabdian Masyarakat

Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) IPB University bekerja sama dengan Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Indikator Implementasi Pengarusutamaan Gender Perspektif Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI).

Kegiatan ini menjadi forum untuk membahas dan menyelaraskan indikator implementasi pengarusutamaan gender dengan perspektif GEDSI di lingkungan IPB University. FGD juga menjadi bagian dari upaya menyinkronkan roadmap pengarusutamaan gender yang telah disusun dengan kajian dan program yang dikembangkan PKGA, sehingga implementasinya dapat berjalan secara lebih terarah, terintegrasi, dan terukur.

Wakil Kepala LPA2I Bidang Inovasi, Alih Teknologi, dan Sociopreneurship, Prof Tri Prartono dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi dan koordinasi antarunit dalam membangun kerangka pengarusutamaan gender dan GEDSI di IPB University. 

“Melalui kolaborasi tersebut, berbagai program yang telah maupun akan dilaksanakan diharapkan dapat saling mendukung dan diterapkan secara nyata di lingkungan IPB University,” ujarnya saat kegiatan yang berlangsung di Swiss-Belhotel Bogor, belum lama ini. 

Sementara itu, Kepala Lembaga Riset Internasional Pembangunan Sosial, Ekonomi dan Kawasan, Prof Arya Hadi Dharmawan, menyoroti pentingnya respons institusi terhadap keberagaman warga kampus. Komposisi mahasiswa baru IPB University tahun ini yang mencapai sekitar 10 ribu mahasiswa, dengan sekitar 60 persen di antaranya perempuan, menunjukkan perlunya penyediaan fasilitas dan lingkungan kampus yang semakin responsif terhadap perspektif GEDSI.

“Konsep GEDSI di lingkungan IPB perlu dibangun berdasarkan prinsip kesetaraan, keberagaman, inklusivitas, dan penghormatan terhadap hak setiap individu,” jelasnya. Prinsip kesetaraan tersebut selanjutnya perlu diterjemahkan ke dalam visi, indikator implementasi, dan aksi nyata di lingkungan kampus.

Penguatan Data, Aksesibilitas, dan Kampus Inklusif
Kepala PKGA, Dr Yulina Eva Riany, menyampaikan bahwa implementasi pengarusutamaan gender diarahkan melalui sejumlah program strategis dengan Science Techno Park (STP) sebagai salah satu lokasi percontohan kawasan yang ramah GEDSI, baik dari sisi struktur, sarana dan prasarana, maupun sumber daya.

Ia juga menyoroti penguatan sistem data, pemetaan fasilitas, dan penguatan kampus sebagai bagian penting dalam implementasi GEDSI guna untuk mengukur keterwakilan, akses, partisipasi, serta capaian berbagai kelompok di lingkungan IPB.

Mendorong Lingkungan Akademik yang Responsif
Diskusi juga melibatkan sejumlah unit di IPB University untuk menggali kondisi dan kebutuhan implementasi GEDSI dalam berbagai aspek. Dari perspektif akademik, Prof Anna Fatchiya, Wakil Dekan FISEMA Bidang Sumberdaya, Kerjasama, dan Pengembangan, menyoroti pentingnya peningkatan sensitivitas GEDSI bagi dosen dan tenaga kependidikan. 

“Prinsip GEDSI juga dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat sesuai dengan karakteristik masing-masing bidang,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Prof Efi Yuliati Yovi dari Sekolah Pascasarjana IPB University. Ia menekankan pentingnya kebijakan pembelajaran yang lebih fleksibel bagi mahasiswa dengan kondisi tertentu, termasuk mahasiswa dengan disabilitas, kehamilan, maupun mahasiswa yang telah memiliki anak.

Melalui kolaborasi LPA2I dan PKGA, hasil FGD ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam penyempurnaan implementasi roadmap pengarusutamaan gender perspektif GEDSI di IPB University. (*/Rz)