Munas PEPSILI 2026 di IPB University, Rektor: Ilmu Pengetahuan Harus Jadi Dasar Hadapi Tantangan Lingkungan

Munas PEPSILI 2026 di IPB University, Rektor: Ilmu Pengetahuan Harus Jadi Dasar Hadapi Tantangan Lingkungan

munas-pepsili-2026-di-ipb-university-rektor-ilmu-pengetahuan-harus-jadi-dasar-hadapi-tantangan-lingkungan
Berita

IPB University menjadi tuan rumah “Workshop Internasional, Pelatihan Berbasis Kompetensi, dan Musyawarah Nasional (Munas) Perkumpulan Program Studi Ilmu Lingkungan Indonesia (PEPSILI) 2026”.

Kegiatan yang diikuti 118 peserta dari 36 universitas ini menjadi forum kolaborasi untuk memperkuat peran ilmu lingkungan dalam mendorong kebijakan dan aksi nyata bagi keberlanjutan.

Pada forum itu, Rektor IPB University, Dr Alim Setiawan Slamet, menegaskan bahwa berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi saat ini membutuhkan keterhubungan yang kuat antara pengetahuan dan aksi nyata. Menurutnya, ilmu pengetahuan harus mampu menjadi dasar dalam setiap langkah dan keputusan untuk menghadapi tantangan lingkungan.

“Pengetahuan tanpa tindakan tidak akan menghasilkan perubahan, sementara tindakan tanpa pengetahuan dapat kehilangan arah. Forum ini menjadi jembatan antara teori dan praktik, antara penelitian dan implementasi, serta antara kampus dan berbagai pemangku kepentingan,” ujarnya saat membuka Munas PEPSILI di Gedung Startup Center, Kampus IPB Taman Kencana, Kamis (3/9).

Ia mengatakan, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghasilkan pengetahuan sekaligus memastikan hasil penelitian dan keilmuan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam menghadapi persoalan lingkungan yang semakin kompleks.

“Forum ini bukan hanya menjadi tempat untuk bertukar pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kolaborasi. Tantangan lingkungan tidak mengenal batas wilayah, sehingga solusi yang kita bangun juga membutuhkan kerja sama dan sinergi yang kuat,” katanya.

Rektor juga berharap forum tersebut dapat menjadi wahana untuk memperkuat kolaborasi dan sinergi antarperguruan tinggi dalam meningkatkan keberlanjutan di Indonesia. “Marilah kita menjadikan pengetahuan sebagai tindakan, dan tindakan sebagai dampak yang berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakat,” kata dia.

Sementara itu, Deputi Bidang Tata Lingkungan dan Sumber Daya Alam Berkelanjutan, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Ir Sigit Reliantoro, MSc, menilai tantangan terbesar pengelolaan lingkungan saat ini bukan karena Indonesia kekurangan ilmu pengetahuan, teknologi, data, maupun regulasi. 

“Tantangan utamanya adalah memastikan seluruh pengetahuan tersebut dapat diterjemahkan ke dalam keputusan dan perubahan ekologis yang nyata,” tandasnya.

Ia mencontohkan berbagai persoalan lingkungan, termasuk bencana hidrometeorologi dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang membutuhkan perubahan cara pandang dalam tata kelola lingkungan.

“Memadamkan api adalah kewajiban, tetapi mencegah api agar tidak kembali terjadi adalah keberhasilan tata kelola,” ujarnya.

Dekan Sekolah Pascasarjana IPB University, Prof Yusli Wardiatno menambahkan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar menghasilkan ilmu pengetahuan. Ilmu yang dihasilkan, menurutnya, harus dapat diterjemahkan menjadi aksi, kebijakan, dan tata kelola yang lebih baik bagi lingkungan.

Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk memperkuat komunitas pendidikan ilmu lingkungan di Indonesia. Para peserta tidak hanya mengikuti diskusi dan workshop, tetapi juga pelatihan berbasis kompetensi serta rangkaian Munas PEPSILI.

Melalui pertemuan tersebut, IPB University berharap lahir gagasan, jejaring, dan kolaborasi baru yang dapat memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan pendidikan dan tata kelola lingkungan di Indonesia.